Penanganan Pandemi dan Eksternalitas

by Research Division HIMA ESP FEB Unpad

Pernahkah Anda merasa risih ketika sedang berada di ruang publik seperti restoran kemudian Anda menemui orang yang dengan seenaknya merokok tanpa peduli terhadap orang di sekitarnya? Atau mungkin pernahkah Anda merasa sangat gembira saat ada konser yang diselenggarakan di sekitar tempat tinggal Anda dan salah satu penampil merupakan musisi favorit Anda? Jika diperhatikan dari dua kasus tersebut, Anda tidak terlibat secara langsung di dalamnya, namun Anda merasakan dampak yang ditimbulkan oleh dua aktivitas tersebut. Artinya, ada beberapa aktivitas yang ketika dilakukan akan memiliki dampak pada pihak lain yang tidak terlibat, dampak yang ditimbulkan pun bisa menguntungkan atau merugikan. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memperhitungkan dampak tambahan yang mungkin terjadi, sehingga tidak ada pihak yang dirugikan.

Dalam ekonomi, hal semacam ini biasa disebut sebagai eksternalitas. Eksternalitas adalah dampak yang dirasakan oleh pihak lain akibat dari kegiatan yang dilakukan oleh suatu pihak. Untuk sumbernya sendiri, eksternalitas dapat disebabkan oleh kegiatan produksi maupun konsumsi. Dampak yang ditimbulkan dari eksternalitas bisa membawa manfaat ataupun kerugian (menimbulkan biaya tambahan). Dampak positif maupun negatif yang dihasilkan tadi harus diinternalisasi untuk menciptakan perekonomian yang efisien. Internalisasi eksternalitas tersebut bisa dilakukan dengan berbagai cara, seperti menetapkan aturan khusus, melakukan negosiasi, membebankan pajak, dan memberikan subsidi. Meskipun begitu, berkaitan dengan kegiatan yang menimbulkan eksternalitas negatif, individu akan terus melakukan kegiatan tersebut hingga tambahan manfaat yang dirasakan dari memproduksi eksternalitas negatif tersebut sama dengan tambahan biaya yang dikeluarkan untuk menanggulanginya (manfaat dari memproduksi eksternalitas adalah biaya yang dapat dihindari ketika kita memproduksi eksternalitas tersebut).

Contoh eksternalitas akibat kegiatan konsumsi yang lain juga dapat kita amati saat ini di tengah-tengah pandemi. Seperti yang kita tahu, pandemi Covid-19 membawa banyak perubahan pada kehidupan manusia, termasuk pada pola konsumsi masyarakat. Di masa-masa sekarang ini, masyarakat cenderung mengonsumsi lebih banyak produk kesehatan dibanding biasanya. Hal tersebut bisa dibilang wajar karena produk-produk tersebut memang sudah menjadi kebutuhan pokok di tengah-tengah krisis kesehatan. Selain produk-produk disinfektan, masker sebagai alat utama pencegahan penyebaran virus korona juga mengalami lonjakan permintaan yang sangat tinggi. Bahkan banyak merek masker yang belum pernah kita dengar sebelumnya kini memiliki market share yang besar.

Masker yang sering dijumpai saat ini terbagi ke dalam dua jenis, yaitu masker kain dan masker medis sekali pakai. Seperti diketahui dari namanya, masker sekali pakai akan dibuang setelah pemakaian pertama dari konsumen. Hal ini tentu saja menimbulkan masalah baru untuk lingkungan, di mana jumlah sampah yang terakumulasi menjadi semakin tidak terkendali. Lebih parahnya lagi jenis limbah yang bertambah merupakan limbah medis yang sifatnya infeksius dan perlu penanganan khusus untuk pengolahannya. Menurut data dari Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, sejak April sampai dengan akhir Desember 2020 sebanyak 1,5 ton limbah masker sudah terkumpul di Ibu Kota. Tentunya upaya penanganan limbah tersebut membutuhkan biaya yang tidak sedikit dan mungkin tidak diperhitungkan sebelumnya.

Dalam kasus masker sekali pakai ini, eksternalitas yang ditimbulkan tentunya membawa kerugian bagi pihak ketiga, di mana diperlukan biaya tambahan untuk menanggulanginya (internalization). Salah satu upaya internalisasi yang dapat dilakukan adalah dengan membebankan pajak kepada perusahaan produsen masker sekali pakai. Akibatnya, perusahaan akan memproduksi lebih sedikit sehingga harga yang dibebankan ke konsumen menjadi lebih tinggi. Seperti yang sudah disebutkan di atas, konsumen akan terus mengkonsumsi masker sekali pakai sampai dengan tingkat tambahan manfaatnya sama dengan tambahan biaya yang harus dikeluarkan untuk menginternalisasi dampak buruk yang dihasilkan. Untuk ilustrasi dari konsep tersebut bisa dilihat seperti dibawah ini.

Grafik 1: ilustrasi MSC dan MSB

Pada grafik diatas, konsumen akan tetap mengonsumsi sampai dengan 3 unit, saat MSC=MSB. Seperti yang kita tahu, saat ini pemerintah sedang melaksanakan program vaksinasi hampir di seluruh wilayah Indonesia, program vaksinasi bertujuan untuk mengurangi risiko terpapar penyakit, dalam hal ini Covid-19, bekerja bersama dengan sistem imun tubuh. Artinya, program vaksinasi ini membuat insentif masyarakat dari memakai masker berkurang. Jika dijelaskan dengan teori yang tadi disebutkan, tambahan manfaat dari menambah sampah medis akan berkurang seiring dengan program vaksinasi yang semakin gencar dilakukan. Dengan tambahan manfaat yang berkurang dan tambahan biaya yang semakin besar setiap mengkonsumsinya, masyarakat akan mengurangi konsumsi masker medis tadi.

Dari paparan kondisi di atas, dapat disimpulkan bahwa orang yang bersikap rasional akan mengurangi konsumsinya terhadap masker sekali pakai. Mereka akan merasa insentif yang mereka terima saat harus menambah polusi semakin berkurang, sehingga mereka akan mencari alternatif yang lebih “murah”. Yang dimaksud dengan murah di sini adalah alternatif yang memiliki total biaya perolehan dan biaya spillover yang lebih kecil, contohnya seperti masker kain. Masker kain memiliki harga rata-rata 20 ribu rupiah, sekitar 10 kali lipat harga rata-rata masker sekali pakai, maka dengan asumsi bahwa masker kain bisa dipakai sampai lebih dari 10 kali, masker kain memiliki biaya total yang lebih murah, terutama dari biaya spillover yang ditimbulkan.

Kesimpulannya adalah, pandemi ini tidak hanya berdampak pada sektor kesehatan saja, melainkan sektor lain seperti lingkungan juga ikut terdampak. Kita tidak dapat menutup mata bahwa upaya penanggulangan pandemi ini ikut memiliki dampak yang cukup signifikan pada degradasi lingkungan. Permasalahan limbah medis infeksius seperti masker bedah, alat pelindung diri, jarum suntik, dan botol vaksin menjadi beberapa contohnya. Artinya, dalam upaya pencegahan dan penanggulangan pandemi ini terdapat eksternalitas yang harus diinternalisasi agar perekonomian dapat berjalan dengan efisien. Selain itu, masyarakat dituntut untuk dapat bersikap rasional sehingga anomali-anomali dalam perekonomian dapat dihindari dan perekonomian dapat berjalan sebagaimana mestinya.

Referensi

Beggs, J. (2019, January 30). Introduction to Externalities. Retrieved from ThoghtCo.: https://www.thoughtco.com/introduction-to-externalities-1147385

Karl E. Case, R. C. (2017). Principles of Economics. Harlow: Pearson.

Nufus, W. H. (2021, January 27). 1,5 Ton Sampah Masker Bekas dari Rumah Tangga Terkumpul selama Pandemi. Retrieved from detikNews: https://news.detik.com/berita/d-5350288/15-ton-sampah-masker-bekas-dari-rumah-tangga-terkumpul-selama-pandemi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s