KONDISI MAHASISWA DITENGAH PANDEMI; PERSPEKTIF PSIKOLOGI DAN EKONOMI

By : Research Division HIMA ESP FEB UNPAD

Psikologi adalah ilmu tentang pikiran, mental atau tingkah laku (American Sociology), intinya Ilmu Psikologi mendalami hal yang berkenaan dengan mental dan perilaku, minimal enam cabang yang meliputi; klinis, perkembangan, organisasi, pendidikan, sosial, eksperimen, dan sub lainnya. Termasuk psikologi kebencanaan dan budaya sebagai sub khusus dari psikologi yang sepanjang pandemi ini lebih aktif untuk digunakan.
Universitas Padjadjaran membuat sebuah tim selama pandemi ini yang terdiri dari beberapa fakultas yang berada di Universitas Padjadjaran dan masuk kedalam pusat riset kebencanaan dengan tugas mengkaji dan meneliti permasalahan yang dihadapi mahasiswa, salah satu divisi yang ada adalah divisi respon kebencanaan yang memfokuskan diri untuk menangani mahasiswa yang masih di Jatinangor, baik di asrama, kos dan sebagainya. Jumlah mahasiswa yang masih di Jatinangor sekitar 700 – 800 mahasiswa per bulan Mei 2020. Beberapa waktu lalu sempat dicek mengenai permasalahan yang dialami oleh mahasiswa yang terdampak dan masih bertahan di Jatinangor, dengan hasil problem terbanyak adalah sebagai berikut : (penelitian secara daring dan konseling offline).

  1. Masalah tugas dan kuliah, terutama pada fase awal dimana mahasiswa dan dosen menyesuaikan diri dan banyak yang merasa stress , diminggu pertama, para dosen memiliki beberapa kendala seperti ketidak siapan dalam pengetahuan teknologi yang menunjang perkuliahan online (gaptek) dan kurang bisa memetakan kebutuhan tugas mahasiswa.
  2. Lockdown wilayah unpad, ketidakjelasan, dan pertimbangan biaya untuk keluar masuk Jatinangor, terutama kesimpang-siuran informasi tentang pembatasan skala besar (PSBB). Mahasiswa baik yang memutuskan untuk pulang maupun tidak pulang memiliki masalahnya masing-masing, terutama yang mahasiswa baru yang biasa di sebut Maba yang notabennya masih berada pada tahap penyesuaian, yang mana sering merasakan homesick, di tambah dengan keadaan bulan suci Ramadhan dimana biasanya maba ketika bulan Ramadhan tiba melaksanakan puasa bersama keluarga. Berbanding terbalik dengan mahasiswa lama yang lebih bisa beradaptasi dan terbiasa dengan Ramadhan sendiri.
  3. Keadaan Finansial yang dihadapi, dibaik oleh individu ataupun keluarga. Fakta menunjukan bahwa banyak mahasiswa kurang beruntung yang disebabkan orangtuanya terkena pemutusan hubungan kerja (PHK), kesulitan dalam hal finansial juga mengakibatkan terhambatnya mahasiswa dalam mengakses perkuliahan, karena yang kita ketahui perkuliahan secara daring banyak memakan biaya yang tidak sedikit untuk membeli paket internet bagi mahasiswa yang tidak menggunakan wifi.
  4. Masalah pribadi, lelah karena terlalu banyak tugas dan ditambah tanggung jawab moral dirumah untuk membantu pekerjaan orang tua. Ada juga yang masih ingin di Jatinangor daripada di rumah, dan juga kondisi rumahnya yang kurang baik.

Enam minggu di rumah ternyata bisa membuat stress, stress sendiri ada yang bisa ditangani dan tidak bisa ditangani. Yang bisa ditangani dapat di arahkan ke hal yang bermanfaat, diantaranya Coping dan Social Support. Coping, bisa kita turunkan dulu stressnya atau langsung menyelesaikan masalah dengan mencari solusi, dimana coping ini berfungsi sebagai pengalihan stress. Perlu diperhatikan bahwa ada beberapa kasus mahasiswa yang melakukan coping namun dengan cara yang salah, seperti bermain game dan tidur yang terlalu berlebihan sehingga tugas – tugas terbengkalai dan menjadikan menejemen waktu yang semakin buruk.  Selanjutnya adalah Social Support berbentuk dukungan dari orang terdekat melalui berbagai macam perantara, mulai dari texting ataupun video conference. Perlu diperhatikan juga bahwa stress bisa menular, baik dari keluarga yang tidak harmonis ataupun dari lingkungan pertemanan yang tidak memberikan dukungan dengan baik.

Untuk beberapa kasus mahasiswa, dukungan material dapat memberikan keringanan dan mengurangi tingkat stress mereka, baik berupa bantuan subsidi pulsa ataupun uang tunai untuk kehidupan sehari – hari. Selain itu, dukungan informasi dan dukungan emosional (hiburan, mengobrol , dll) untuk teman dan lingkungan perlu ditingkatkan agar bisa saling menjaga satu sama lain dan dapat memberikan suasana peer group yang baik dan sehat.

Lebih dalam dari itu, ada beberapa tips yang bisa digunakan untuk menghindarkan diri dari stress selama pandemi.

a. Masalah kuliah dan tugas, coping yang dapat dilakukan adalah dengan time management. Dengan bangun tetap pagi dan melakukan aktifitas pagi seperti biasa saat kuliah offline, pakaian juga bisa disesuaikan dengan kondisi yang lebih nyaman namun tetap sopan untuk kegiatan video conferrence.

b. Orang tua yang menganggap bahwa anaknya libur, kita harus bisa memberi tahu orang tua dengan baik bahwa masih ada kewajiban untuk belajar di saat seperti ini, masih ada ujian yang harus dijalankan dan juga beberapa kegiatan organisasi yang masih harus dijalankan sekalipun di rumah. Komunikasi yang baik dengan orang tua dirumah diharapkan dapat memberikan dampak postif bagi deadline yang sedang dikejar, terutama skripsi dan tugas akhir lainnya, selain itu mahasiswa juga harus sering kontak dengan dosen, agar dosen juga tidak lupa kepada mahasiswa yang masih membutuhkan bimbingan.

c. Mahasiswa yang tidak pulang, disarankan untuk lebih sering berkomunikasi dengan keluarga, baik melalui videocall, voice call atau hanya sekedar saling bertukar pesan tulisan.

d. Finansial, seperti kurang pulsa ataupun keadaan keuangan keluarga secara keseluruhan akibat anggota keluarga yang kehilangan pekerjaan, ini memerlukan kepekaan dari orang – orang disekitarnya untuk memberikan bantuan.

e. Personal problem di rumah, mulai dari kondisi rumah yang kurang nyaman dan/atau bertengkar dengan pasangan dan kehilangan motivasi belajar. Disarankan untuk lebih sering melakukan konseling secara online, minimal untuk mendapatkan teman bicara, kemudian diarahkan juga untuk berolahraga dan relaksasi secara mandiri.

Untuk keseluruhan masalah, stress juga bisa menurunkan imunitas tubuh, terutama di kondisi pandemi seperti ini harus lebih memperhatikan pola makan, pola istirahat dan pola hidup sehat lainnya yang bisa menjaga daya tahan tubuh. Selain secara jasmani, kita juga harus memperhatikan rohani, baik dengan mencari dan menjadi support group ataupun mendekatkan diri kepada Tuhan. Saling mendukung dan menghidupkan suasan selama kuliah juga bisa menjadi stimulus yang baik untuk kesehatan mental, mulai dari diskusi bersama teman secara daring hingga makan bersama.

Kemudian dari assessment yang telah dilaksanakan oleh CEDS Fakultas Ekonomi dan Bisnis, IKM Fakultas Kedokteran dan Fakultas Psikologi, diketahui hasil yang sejalan dengan pendekatan psikologi. Ketika melakukan pengumpulan data terlihat bahwa golongan mahasiswa lebih responsive untuk mengisi kuisioner daripada golongan lainnya. Penelitian ini hanya menggambarkan potensi seseorang untuk terkena stress, bukan memvonis sesorang terkena stress atau tidak. Penelitian ini, rata-rata responden berasal dari Jawa Barat, Sumatera dan kawasan Timur Indonesia.

Secara deskriptif, perasaan khawatir dan sosial media membuat mahasiswa cemas dan pesimis, kebanyakan responden menilai bahwa pembatasan sosial yang dilaksanakan baik untuk dilakukan, sebagian kecil responden masih ingin ibadah bersama dan sisanya paham kalau harus ibadah di rumah.

Dari penelitian yang dilakukan, ada hasil yang cukup mengkhawatirkan dari variabel olahraga dan berjemur yang masih sangat rendah presentasenya diperburuk dengan akses makanan berkarbohidrat yang semakin meningkat. Hal ini dikhawatirkan dapat menurunkan daya tahan tubuh dan kemampuan belajar mahasiswa dan responden lainnya selama pandemi karena aktivitas tubuh yang semakin berkurang dan nutrisi yang tidak seimbang. Selain itu, ditemukan juga fakta bahwa gejala deprsi mahasiswa dan wartawan lebih tinggi daripada tenaga medis, hal ini dikarenakan bahwa tenaga medis sudah di training dan sering menghadapi kondisi seperti ini daripada masyarakat umum.

Perhatian terhadap kondisi mahasiswa juga harus diperhatikan karena sebagian besar responden tidur dengan gelisah dan merasa sendiri. Mahasiswa mengalami gejala depresi, rasa pesimis meningkat, sehingga mahasiswa memiliki probabilitas lebih tinggi untuk mengalami depresi. Selain itu, mahasiswa yang tidak mudik dengan kerentanan finansial, ada dukungan dari kampus untuk meredam depresi. Terdapat juga mahasiswa asing yang masih ada di asrama dengan masalah gizi yang sama, sehingga masalah gizi di kalangan mahasiswa juga harus diperhatikan, baik selama maupun sesudah pandemi. Terdapat pula 1% responden yang mengalami kondisi terburuk.

Dari segi biaya, biaya untuk depresi yaitu direct cost dan social cost. Biaya direct (kesehatan) hanya 20% sedangkan 80% nya biaya sosial seperti produktifitas dan keluarga. Sehingga kerugian dari adanya stress yang dialami oleh para responden bisa lebih besar yang tidak dirasakan daripada biaya yang dirasakan langsung, dan hal ini harus segera ditangani agar kerugian bisa diminimalisir.

Kesimpulannya adalah 47% mahasiswa merasa depresi dan setengahnya beresiko depresi, oleh karena itu harus diperhatikan masalah kesehatan mental disamping ekonomi dan kesehatan fisik, selain itu juga pembatasan sosial harus dilakukan secara disiplin oleh masyarakat agar pandemi ini cepat berakhir dan jumlah orang yang beresiko depresi menjadi berkurang dan kerugian – kerugian yang timbul bisa terus diminamalisir.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s