Disusun oleh : Azka Azfalah Nauval
Abstrak
Perkembangan Artificial Intelligence (AI) generatif, seperti ChatGPT, semakin banyak dimanfaatkan oleh mahasiswa dalam menyelesaikan tugas akademik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penggunaan AI generatif terhadap kemampuan berpikir kritis mahasiswa dalam penyelesaian tugas akademik. Penelitian ini menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR) dengan proses identifikasi, penyaringan, dan evaluasi artikel yang dilakukan menggunakan pedoman PRISMA. Hasil proses seleksi menghasilkan 235 artikel yang memenuhi kriteria inklusi. Dari jumlah tersebut, 20 artikel dipilih sebagai fokus analisis karena memiliki relevansi paling kuat dengan topik penelitian. Hasil kajian menunjukkan bahwa penggunaan AI generatif dapat meningkatkan efisiensi pembelajaran serta mendukung pencapaian hasil akademik mahasiswa. Namun, penggunaan yang berlebihan berpotensi menimbulkan ketergantungan kognitif yang dapat mengurangi latihan berpikir kritis serta menurunkan retensi pengetahuan mahasiswa. Oleh karena itu, pemanfaatan AI generatif dalam pembelajaran perlu disertai dengan literasi digital, bimbingan pedagogis, serta pedoman penggunaan yang jelas agar teknologi ini dapat mendukung proses pembelajaran tanpa mengurangi kemampuan berpikir kritis mahasiswa.
Kata kunci: AI generatif, berpikir kritis, Systematic Literature Review, mahasiswa.
BAB I
PENDAHULIUAN
1.1 Latar Belakang
Perkembangan pesat teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah membawa perubahan signifikan dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk dalam dunia pendidikan. Salah satu perkembangan terbaru dalam bidang Artificial Intelligence adalah munculnya teknologi Artificial Intelligence generatif (Generative AI) yang mampu menghasilkan berbagai bentuk konten seperti teks, gambar, maupun kode secara otomatis berdasarkan pola data yang dipelajarinya. Teknologi ini telah membuka peluang baru dalam proses pembelajaran, khususnya dalam membantu mahasiswa memperoleh informasi serta menyelesaikan berbagai tugas akademik.
Kemunculan berbagai aplikasi berbasis Artificial Intelligence generatif seperti ChatGPT, Gemini, dan Copilot telah memudahkan mahasiswa dalam melakukan berbagai aktivitas akademik, mulai dari pencarian informasi, penyusunan kerangka tulisan, hingga penyelesaian tugas akademik yang kompleks. Teknologi ini memungkinkan mahasiswa memperoleh penjelasan konsep secara cepat serta mendapatkan berbagai referensi yang dapat membantu proses belajar mereka.
Dalam beberapa tahun terakhir, penggunaan Artificial Intelligence generatif di kalangan mahasiswa juga menunjukkan tren yang terus meningkat. Berbagai survei internasional menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa telah memanfaatkan alat AI seperti ChatGPT untuk membantu proses penulisan akademik, pencarian informasi, serta pemahaman konsep pembelajaran. Pemanfaatan teknologi ini tidak hanya terbatas pada penyusunan tugas tertulis, tetapi juga meliputi proses brainstorming ide, perbaikan struktur kalimat, hingga penyederhanaan konsep-konsep yang kompleks.
Meskipun memberikan berbagai manfaat dalam mendukung proses pembelajaran, penggunaan Artificial Intelligence generatif juga menimbulkan berbagai perdebatan mengenai dampaknya terhadap proses berpikir mahasiswa. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa teknologi AI dapat membantu mahasiswa dalam memahami konsep yang kompleks serta meningkatkan efisiensi pembelajaran. Namun di sisi lain, penggunaan teknologi AI yang tidak terkontrol dapat menimbulkan ketergantungan terhadap teknologi yang berpotensi mengurangi keterlibatan kognitif mahasiswa dalam proses pembelajaran.
Kemampuan berpikir kritis merupakan salah satu kompetensi penting yang harus dimiliki oleh mahasiswa dalam pendidikan tinggi. Kemampuan ini berkaitan dengan proses analisis informasi, evaluasi argumen, serta kemampuan dalam menarik kesimpulan berdasarkan bukti yang tersedia. Dalam konteks akademik, kemampuan berpikir kritis sangat penting dalam berbagai aktivitas pembelajaran seperti analisis literatur ilmiah, pemecahan masalah kompleks, serta penyusunan karya tulis ilmiah.
Penggunaan Artificial Intelligence generatif dalam proses pembelajaran juga berkaitan dengan konsep cognitive offloading, yaitu kecenderungan individu untuk memindahkan sebagian proses berpikir kepada alat atau teknologi eksternal. Dalam beberapa kondisi, penggunaan teknologi untuk membantu proses berpikir dapat meningkatkan efisiensi kognitif. Namun apabila digunakan secara berlebihan, cognitive offloading berpotensi mengurangi keterlibatan mental mahasiswa dalam proses analisis dan evaluasi informasi.
Selain itu, perkembangan teknologi Artificial Intelligence juga menuntut mahasiswa untuk memiliki literasi Artificial Intelligence (AI literacy), yaitu kemampuan untuk memahami cara kerja teknologi AI serta kemampuan untuk mengevaluasi informasi yang dihasilkan oleh sistem AI secara kritis. Tanpa literasi AI yang memadai, mahasiswa berpotensi menerima informasi yang dihasilkan oleh sistem AI secara pasif tanpa melakukan verifikasi atau evaluasi yang memadai.
Berdasarkan kajian literatur yang telah dilakukan, terdapat beberapa celah penelitian yang masih memerlukan kajian lebih lanjut. Pertama, sebagian besar penelitian mengenai dampak Artificial Intelligence generatif terhadap kemampuan berpikir kritis dilakukan dalam konteks pendidikan di negara maju, sehingga masih diperlukan kajian yang lebih komprehensif dalam konteks pendidikan tinggi di Indonesia. Kedua, penelitian yang secara khusus mengkaji hubungan antara penggunaan Artificial Intelligence generatif dan proses berpikir kognitif mahasiswa seperti analisis, evaluasi, dan interpretasi informasi masih relatif terbatas. Ketiga, penelitian yang mengintegrasikan konsep cognitive offloading, AI literacy, dan kemampuan berpikir kritis dalam satu kerangka analisis yang komprehensif juga masih jarang ditemukan dalam literatur ilmiah.
Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara lebih mendalam hubungan antara penggunaan Artificial Intelligence generatif dan kemampuan berpikir kritis mahasiswa dalam penyelesaian tugas akademik melalui pendekatan Systematic Literature Review.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
- Bagaimana karakteristik penggunaan AI generatif oleh mahasiswa dalam penyelesaian tugas akademik?
- Bagaimana hubungan penggunaan AI generatif dengan proses berpikir kognitif mahasiswa (termasuk analisis, evaluasi, interpretasi)?
- Bagaimana pengaruh penggunaan AI generatif terhadap kemampuan berpikir kritis mahasiswa?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah:
- Menganalisis pola dan intensitas penggunaan AI generatif oleh mahasiswa dalam menyelesaikan tugas akademik.
- Mengkaji hubungan antara penggunaan AI generatif dengan proses berpikir kognitif mahasiswa, terutama pada tahap analisis, evaluasi, dan interpretasi konsep.
- Menilai pengaruh penggunaan AI generatif terhadap kemampuan berpikir kritis mahasiswa secara keseluruhan.
1.4 Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan memberikan manfaat teoritis dan praktis. Secara teoritis, hasil kajian ini akan menambah pemahaman mengenai integrasi AI generatif dalam pendidikan tinggi, terutama dalam kaitannya dengan AI literacy, proses kognitif, serta teori berpikir kritis yang dikemukakan oleh Facione. Temuan dari literatur terbaru (misalnya Balart et al., 2026 dan Jose et al., 2025) akan disintesis untuk membangun kerangka berpikir yang kokoh secara ilmiah.
Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi institusi pendidikan dalam merancang kebijakan penggunaan AI generatif yang efektif dan etis. Misalnya, hasil penelitian yang menunjukkan pentingnya AI literacy dapat mendorong pengembangan program pelatihan bagi dosen dan mahasiswa. Selain itu, temuan mengenai kecenderungan cognitive offloading memberikan implikasi bahwa proses pembelajaran perlu dirancang sedemikian rupa agar tetap mendorong keterlibatan berpikir aktif mahasiswa, misalnya melalui pemanfaatan AI dalam kerangka pembelajaran yang terstruktur.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Artificial Intelligence dalam Pendidikan
Artificial Intelligence (AI) merupakan cabang ilmu komputer yang berfokus pada pengembangan sistem yang mampu meniru kemampuan kognitif manusia, seperti proses belajar, penalaran, serta pengambilan keputusan. Dalam beberapa dekade terakhir, perkembangan Artificial Intelligence telah memberikan dampak yang signifikan terhadap berbagai sektor, termasuk pendidikan. Integrasi teknologi AI dalam pendidikan memungkinkan terciptanya sistem pembelajaran yang lebih adaptif, personal, serta berbasis data.
Dalam konteks pendidikan tinggi, teknologi Artificial Intelligence dimanfaatkan untuk berbagai tujuan, seperti sistem pembelajaran adaptif, analisis data pembelajaran, serta penyediaan layanan akademik berbasis otomatisasi. Pemanfaatan teknologi ini memungkinkan proses pembelajaran menjadi lebih fleksibel serta mampu menyesuaikan kebutuhan belajar masing-masing mahasiswa (Zawacki-Richter et al., 2019).
Selain itu, Artificial Intelligence juga dapat berperan sebagai alat bantu pembelajaran yang mampu memberikan umpan balik secara cepat kepada mahasiswa. Teknologi ini dapat membantu mahasiswa memahami konsep pembelajaran yang kompleks melalui berbagai bentuk representasi informasi, seperti simulasi, visualisasi, maupun interaksi berbasis percakapan. Oleh karena itu, Artificial Intelligence semakin dipandang sebagai salah satu komponen penting dalam transformasi digital pendidikan tinggi.
Namun demikian, integrasi teknologi Artificial Intelligence dalam pendidikan juga menimbulkan berbagai tantangan, terutama berkaitan dengan perubahan pola belajar mahasiswa serta potensi ketergantungan terhadap teknologi dalam proses berpikir. Oleh karena itu, pemanfaatan teknologi AI dalam pendidikan perlu diimbangi dengan pendekatan pedagogis yang mampu mendorong keterlibatan kognitif mahasiswa secara aktif.
2.2 Artificial Intelligence Generatif
Salah satu perkembangan terbaru dalam bidang Artificial Intelligence adalah munculnya teknologi Artificial Intelligence generatif (Generative AI). Teknologi ini merujuk pada sistem kecerdasan buatan yang mampu menghasilkan konten baru seperti teks, gambar, audio, maupun kode program berdasarkan pola data yang telah dipelajari sebelumnya.
Kemunculan berbagai aplikasi berbasis generative AI seperti ChatGPT telah membawa perubahan besar dalam cara mahasiswa mengakses informasi serta menyelesaikan tugas akademik. Teknologi ini memungkinkan pengguna memperoleh jawaban yang kompleks, ringkasan literatur, serta penjelasan konsep secara cepat melalui interaksi berbasis bahasa alami.
Menurut Michel-Villarreal et al. (2023), kehadiran ChatGPT dalam lingkungan pendidikan tinggi memberikan berbagai peluang sekaligus tantangan. Di satu sisi, teknologi ini dapat membantu mahasiswa dalam proses brainstorming ide, penyusunan kerangka tulisan, serta pemahaman konsep akademik yang kompleks. Namun di sisi lain, penggunaan teknologi tersebut juga menimbulkan kekhawatiran terkait integritas akademik, plagiarisme, serta potensi penurunan keterlibatan kognitif mahasiswa dalam proses pembelajaran.
Penelitian lain menunjukkan bahwa mahasiswa umumnya memiliki persepsi yang cukup positif terhadap penggunaan generative AI dalam pembelajaran. Sebagian besar mahasiswa memanfaatkan teknologi ini untuk membantu proses penulisan akademik, pencarian referensi, serta pengembangan ide dalam tugas kuliah. Meskipun demikian, mahasiswa juga menyadari adanya berbagai risiko seperti ketidakakuratan informasi, masalah etika akademik, serta kemungkinan ketergantungan terhadap teknologi (Chan & Hu, 2023).
Dengan demikian, penggunaan generative AI dalam pendidikan tidak dapat dipandang semata-mata sebagai alat bantu teknologi, tetapi juga sebagai fenomena baru yang memengaruhi cara mahasiswa belajar, berpikir, serta memproses informasi dalam lingkungan akademik.
2.3 Konsep Berpikir Kritis
Berpikir kritis merupakan salah satu kemampuan kognitif tingkat tinggi yang sangat penting dalam pendidikan tinggi. Kemampuan ini berkaitan dengan proses analisis, evaluasi, serta interpretasi informasi secara rasional dan sistematis.
Menurut Facione (1990), berpikir kritis merupakan proses penilaian yang reflektif dan terarah yang melibatkan beberapa kemampuan kognitif utama, yaitu interpretasi, analisis, evaluasi, inferensi, penjelasan, serta regulasi diri (self-regulation). Kemampuan tersebut memungkinkan individu untuk memahami informasi secara mendalam, mengevaluasi argumen secara objektif, serta mengambil keputusan berdasarkan bukti yang tersedia.
Dalam konteks pendidikan tinggi, kemampuan berpikir kritis sangat penting karena mahasiswa dituntut untuk tidak hanya memahami informasi secara pasif, tetapi juga mampu menganalisis berbagai perspektif serta membangun argumen akademik yang logis dan berbasis bukti.
Kemampuan berpikir kritis juga berkaitan dengan berbagai aktivitas akademik seperti analisis literatur ilmiah, penyelesaian masalah kompleks, serta penyusunan karya tulis ilmiah. Oleh karena itu, pengembangan kemampuan berpikir kritis menjadi salah satu tujuan utama dalam pendidikan tinggi modern.
2.3.1 Indikator Kemampuan Berpikir Kritis
Kemampuan berpikir kritis merupakan salah satu kompetensi penting yang harus dimiliki oleh mahasiswa dalam proses pembelajaran di pendidikan tinggi. Kemampuan ini tidak hanya berkaitan dengan kemampuan memahami informasi, tetapi juga mencakup kemampuan untuk menganalisis, mengevaluasi, serta menarik kesimpulan secara rasional berdasarkan bukti yang tersedia. Oleh karena itu, dalam berbagai penelitian pendidikan, kemampuan berpikir kritis biasanya diukur melalui beberapa indikator yang mencerminkan proses berpikir kognitif tingkat tinggi.
Menurut Facione (1990), kemampuan berpikir kritis terdiri dari beberapa komponen utama yang saling berkaitan, yaitu interpretation, analysis, evaluation, inference, explanation, dan self-regulation. Keenam komponen tersebut menggambarkan proses berpikir yang sistematis dalam memahami informasi, mengevaluasi argumen, serta menghasilkan kesimpulan yang logis. Indikator-indikator tersebut juga banyak digunakan dalam berbagai penelitian mengenai kemampuan berpikir kritis dalam konteks pendidikan.
Berdasarkan kerangka berpikir yang dikemukakan oleh Facione, indikator kemampuan berpikir kritis yang digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 2.1 Indikator Kemampuan Berpikir Kritis
| Indikator | Deskripsi |
| Interpretation | Kemampuan memahami dan menafsirkan makna informasi yang diperoleh |
| Analysis | Kemampuan mengidentifikasi hubungan antar konsep atau argumen |
| Evaluation | Kemampuan menilai kredibilitas informasi dan kekuatan argumen |
| Inference | Kemampuan menarik kesimpulan berdasarkan bukti yang tersedia |
| Explanation | Kemampuan menjelaskan hasil pemikiran secara logis |
| Self Regulation | Kemampuan merefleksikan serta mengevaluasi proses berpikir sendiri |
Sumber : Facione (1990)
2.4 Cognitive Offloading dalam Penggunaan Teknologi
Dalam kajian psikologi kognitif, terdapat konsep yang dikenal sebagai cognitive offloading, yaitu kecenderungan individu untuk memindahkan sebagian proses berpikir kepada alat atau teknologi eksternal. Konsep ini menjelaskan bagaimana manusia menggunakan berbagai alat bantu untuk mengurangi beban kognitif dalam memproses informasi.
Penelitian Sparrow, Liu, dan Wegner (2011) menunjukkan bahwa penggunaan teknologi digital seperti mesin pencari dapat memengaruhi cara individu mengingat dan mengakses informasi. Individu cenderung mengingat lokasi informasi daripada isi informasi itu sendiri ketika mereka mengetahui bahwa informasi tersebut dapat diakses kembali melalui teknologi.
Fenomena cognitive offloading juga dapat terjadi dalam penggunaan Artificial Intelligence generatif. Ketika mahasiswa menggunakan sistem AI untuk menghasilkan jawaban atau menyelesaikan tugas akademik, sebagian proses analisis dan penalaran dapat dialihkan kepada sistem tersebut. Kondisi ini dapat memberikan keuntungan dalam hal efisiensi kognitif, namun juga berpotensi mengurangi keterlibatan mental mahasiswa dalam proses berpikir yang mendalam.
Oleh karena itu, pemahaman mengenai cognitive offloading menjadi penting dalam mengkaji bagaimana penggunaan teknologi Artificial Intelligence memengaruhi proses berpikir mahasiswa dalam lingkungan akademik.
2.5 Artificial Intelligence Literacy
Seiring dengan meningkatnya penggunaan teknologi Artificial Intelligence dalam berbagai aspek kehidupan, muncul konsep yang dikenal sebagai Artificial Intelligence Literacy (AI literacy). Literasi AI merujuk pada kemampuan individu untuk memahami cara kerja teknologi AI, mengevaluasi informasi yang dihasilkan oleh sistem AI, serta menggunakan teknologi tersebut secara kritis dan bertanggung jawab.
Menurut Long dan Magerko (2020), literasi Artificial Intelligence mencakup beberapa aspek penting, seperti pemahaman mengenai prinsip dasar AI, kesadaran terhadap keterbatasan teknologi AI, serta kemampuan untuk mengevaluasi output yang dihasilkan oleh sistem AI secara kritis.
Dalam konteks pendidikan tinggi, literasi Artificial Intelligence menjadi kompetensi yang semakin penting karena mahasiswa semakin sering berinteraksi dengan berbagai sistem berbasis AI. Tanpa AI literacy yang memadai, mahasiswa berpotensi menerima informasi yang dihasilkan oleh sistem AI secara pasif tanpa melakukan proses verifikasi atau evaluasi yang memadai.
Oleh karena itu, pengembangan literasi Artificial Intelligence menjadi salah satu faktor penting dalam memastikan bahwa penggunaan teknologi AI dapat mendukung proses pembelajaran tanpa mengurangi kemampuan berpikir kritis mahasiswa.
2.6 Penelitian Terdahulu
Berbagai penelitian telah dilakukan untuk mengkaji pemanfaatan Artificial Intelligence dalam pendidikan tinggi, khususnya terkait penggunaan AI generatif dalam proses pembelajaran. Penelitian-penelitian tersebut menunjukkan beragam temuan mengenai dampak penggunaan AI terhadap proses kognitif serta kemampuan berpikir kritis mahasiswa.
Berikut ini disajikan tabel sintesis dari 20 studi terkini yang relevan mengenai AI generatif, literasi AI, dan berpikir kritis. Tabel ini merinci variabel penelitian, metode, dan temuan utama tiap studi:
Tabel 2.2 Penelitian Terdahulu tentang Penggunaan AI dalam Pendidikan
| No. | Penulis (Tahun) | Variabel Penelitian | Metode | Temuan Utama |
| 1 | Chan & Hu (2023) | Persepsi mahasiswa terhadap AI generatif (manfaat & kekhawatiran dalam pembelajaran bahasa) | Survei kuantitatif (N=354) + kualitatif | AI generatif meningkatkan pembelajaran (pembantu tata bahasa, ide penulisan, motivasi) namun mahasiswa mengkhawatirkan berkurangnya interaksi manusia dan isu etika (keamanan data, plagiarisme). |
| 2 | Tian & Zhang (2025) | Ketergantungan terhadap AI generatif vs kemampuan berpikir kritis (peran perantara kelelahan kognitif, moderator literasi informasi) | Survei (N=580 mahasiswa Tiongkok), model mediasi moderasi | Ketergantungan lebih tinggi pada AI terkait dengan kemampuan berpikir kritis lebih rendah, di mana kelelahan kognitif memediasi hubungan ini. Literasi informasi memitigasi dampak negatif AI terhadap berpikir kritis, namun pada reliansi AI tinggi literasi tersebut justru meningkatkan kelelahan kognitif. |
| 3 | Hong et al. (2025) | Integrasi AI generatif dalam strategi offloading kognitif vs pembelajaran tradisional (dampak pada berpikir kritis dan kualitas esai) | Quasi-eksperimen (N=240 mahasiswa, 12 minggu intervensi) | Kelompok yang menggunakan AI untuk mengalihkan tugas rendah (brainstorming, koreksi minor) dan fokus ke keterampilan tinggi menunjukkan peningkatan signifikan dalam asesmen berpikir kritis dan menghasilkan esai lebih bermutu (logis, berargumen kuat) dibanding kelompok kontrol. Analisis mediasi menunjukkan pemindahan beban kognitif sebagian menjelaskan hubungan tersebut. |
| 4 | Gerlich (2025) | Frekuensi penggunaan alat AI generatif vs kemampuan berpikir kritis (peran perantara pemindahan beban kognitif) | Survei (666 partisipan internasional), analisis korelasi & wawancara | Terdapat korelasi negatif signifikan antara seringnya penggunaan AI dan skor berpikir kritis; peningkatan pemindahan beban kognitif memediasi efek negatif ini. Pengguna muda lebih tinggi ketergantungan dan skor berpikir kritis lebih rendah dibanding pengguna dewasa, sementara pendidikan lebih tinggi memprediksi kemampuan berpikir kritis lebih baik tanpa memandang penggunaan AI. |
| 5 | Harahap et al. (2025) | Penggunaan AI generatif vs perkembangan berpikir kritis dan kreatif mahasiswa (ketergantungan) | Survei (kuesioner mahasiswa) | Mayoritas mahasiswa jurusan Bahasa & Sastra Indonesia menggunakan AI untuk mengerjakan tugas perkuliahan dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis serta kreatif. Namun, hanya sebagian kecil mahasiswa yang melaporkan merasa sangat tergantung pada AI generatif. |
| 6 | Thalib & Mansyur (2025) | Strategi dan tantangan penggunaan AI generatif dalam penulisan akademik mahasiswa | Studi literatur (review naratif 15 artikel) | Mahasiswa memanfaatkan AI generatif untuk brainstorming, koreksi tata bahasa, dan pembelajaran personal. Namun, AI tersebut menimbulkan tantangan serius: integritas akademik terancam, muncul informasi tidak akurat dan referensi fiktif, serta potensi penurunan kemampuan berpikir kritis. Kesimpulannya, AI generatif adalah pedang bermata dua yang menuntut transformasi mendasar dalam penilaian akademik dan kebijakan institusional yang jelas. |
| 7 | Hidayah et al. (2024) | Dampak ChatGPT terhadap kemampuan berpikir kritis mahasiswa (analisis diskursus Foucault) | Studi kualitatif (analisis diskusi podcast) | Analisis eksposisi wawancara podcast menunjukkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa dapat terancam jika mereka tidak menyadari keberadaan dan batasan teknologi ChatGPT. Diperlukan strategi pengajaran oleh pendidik untuk menanamkan etika dan keterampilan berpikir kritis kepada mahasiswa ketika merespons output ChatGPT. |
| 8 | Kooli (2023) | Sistem chatbot/AI di pendidikan (implikasi etika penggunaan dalam riset dan pengajaran) | Kajian kualitatif berbasis review ekstensif | Mengeksplorasi tantangan etika penggunaan chatbot/AI: penulis menekankan perlunya adaptasi metode penilaian (kehilangan ujian berbasis kertas), peningkatan kesadaran dan legislasi, serta penguatan nilai-nilai etika. AI dan chatbot dalam pendidikan harus dipandang sebagai peluang pengembangan, bukan ancaman, dengan penegakan kebijakan yang tepat. |
| 9 | Chen & Cheung (2025) | Pengaruh AI generatif pada hasil belajar mahasiswa (akademik, bahasa, berpikir tingkat tinggi) | Meta-analisis (57 studi eksperimental, 5389 partisipan) | Meta-analisis menunjukkan AI generatif secara keseluruhan memiliki efek positif besar pada hasil belajar mahasiswa. Efek besar ditemukan pada keterampilan bahasa, prestasi akademik, dan motivasi-afektif, serta efek sedang pada kemampuan berpikir tingkat tinggi (higher-order thinking). Sebaliknya, efek AI pada metakognisi tidak signifikan. Kerangka termasuk peserta di berbagai disiplin (terutama bahasa dan STEM). |
| 10 | Nursyahfitri et al. (2025) | Hubungan penggunaan ChatGPT dengan keterampilan digital mahasiswa (termasuk berpikir kritis) | Survei korelasional (kuisioner, teknik Pearson) | Ditemukan hubungan positif signifikan antara penggunaan ChatGPT dan keterampilan digital mahasiswa. Penggunaan ChatGPT terbukti membantu meningkatkan kemampuan berpikir kritis, komunikasi, pengelolaan informasi, serta keterampilan teknis lainnya. Dengan kata lain, pemanfaatan ChatGPT yang tepat dapat mendukung pengembangan kompetensi digital dan berpikir kritis mahasiswa. |
| 11 | Ortiz-Prado et al. (2025) | Pengaruh Generative AI (khususnya di pendidikan kedokteran) pada kemampuan berpikir kritis dan otonomi kognitif | Artikel prospektif (viewpoint, tinjauan literatur) | Menilai potensi ganda GenAI: jika terintegrasi dengan kerangka kurikuler yang baik, AI dapat mendukung analisis klinis dan proses penalaran mahasiswa kedokteran. Namun tanpa bimbingan, GenAI bisa mengurangi otonomi kognitif. Studi ini mengutip Gerlich (2025) yang menemukan korelasi negatif penggunaan AI–CT dengan mediasi offloading, menekankan perlunya integrasi etik dan reflektif agar AI menjadi penambah, bukan pengganti, berpikir kritis. |
| 12 | Jose et al. (2025) | Implikasi penggunaan AI pada beban kognitif dan perkembangan berpikir kritis | Artikel konseptual (peninjauan teori & penelitian terkini) | Menjelaskan konsep cognitive offloading: penggunaan AI sebagai alat eksternal dapat mengurangi latihan memori aktif dan pemecahan masalah penting dalam pembangunan kognitif. Temuan empirik menunjukkan bahwa ketergantungan berlebih pada AI dapat melemahkan keterlibatan kognitif dan kemampuan berpikir kritis mahasiswa. Oleh karena itu, strategi penggunaan AI harus diarahkan agar AI mendukung, bukan menggantikan, proses berpikir aktif. |
| 13 | Ododo et al. (2024) | Persepsi penggunaan AI dalam pendidikan vokasi vs keterlibatan berpikir kritis | Studi lapangan (survei N=206, Nigeria) | Ditemukan bahwa AI menimbulkan kekhawatiran serius: mahasiswa cenderung menerima informasi dari AI secara pasif tanpa pemeriksaan kritis. Penggunaan AI yang intensif di kelas vokasi dapat mengurangi keterlibatan kognitif dan berpikir kritis, sehingga penulis menyarankan platform AI harus dirancang untuk mendorong verifikasi mandiri dan pemikiran independen. |
| 14 | Bai et al. (2023) | Penggunaan AI (ChatGPT) vs retensi memori (kemampuan mengingat jangka panjang) | Meta-analisis/eksperimen (mengutip 2023) | Studi ini menunjukkan AI meningkatkan pembelajaran yang dipersonalisasi, namun ketergantungan berlebih pada AI ternyata mengurangi keterlibatan kognitif dan retensi jangka panjang. Dengan kata lain, meski AI membantu akses informasi, terlalu banyak mengandalkannya dapat melemahkan kemampuan mahasiswa untuk mengingat dan memahami materi secara mendalam. |
| 15 | Akgun & Toker (2024) | Dampak intervensi pra-test dan pemaparan AI (ChatGPT) pada retensi pembelajaran | Eksperimen kuasi (73 mahasiswa, Amerika Serikat) | Dalam studi tersebut, satu kelompok melakukan pra-test sebelum menggunakan AI, sedangkan kelompok kontrol langsung menggunakan AI tanpa pra-test. Hasilnya, pra-test meningkatkan keterlibatan kognitif dan retensi memori. Sebaliknya, paparan AI yang berkepanjangan tanpa pra-test menyebabkan penurunan retensi. Temuan ini menegaskan perlunya integrasi strategi pembelajaran manusiawi saat menggunakan AI. |
| 16 | Habib et al. (2024) | Penggunaan AI generatif (ChatGPT-3) dalam tugas pemecahan masalah kreatif (divergent thinking) | Eksperimen mixed-method (undergraduate, USA) | Mahasiswa yang dibantu AI memperoleh skor lebih tinggi pada fluency, flexibility, dan elaboration dalam tugas Alternative Uses. Namun, penggunaan AI juga menyebabkan gejala cognitive fixation (kebergantungan pada ide AI) dan menurunkan kepercayaan diri kreatif mereka. Artinya, AI dapat memperkaya ide, tapi juga berisiko mereduksi kebebasan berpikir kreatif. |
| 17 | Balart et al. (2026) | Integrasi GenAI di pendidikan tinggi vs perkembangan kemampuan berpikir kritis siswa | Tinjauan sistematis (PRISMA, 63 studi empiris 2023–Apr 2025) | Tinjauan literatur ini menemukan bahwa saat penggunaan GenAI diorganisasi dengan baik (misalnya lewat prompt terstruktur dan refleksi tertutup), hampir setengah studi melaporkan peningkatan signifikan dalam kemampuan berpikir kritis mahasiswa. GenAI membantu scaffolding penalaran dan self-regulasi belajar. Sebaliknya, penggunaan GenAI yang tidak diarahkan menyebabkan offloading kognitif, penerimaan informasi tanpa kritik, dan penurunan otonomi intelektual. Rekomendasinya: desain pedagogis harus disengaja agar GenAI menjadi katalisator, bukan pengganti, berpikir kritis. |
| 18 | Sun & Zhou (2024) | Penggunaan AI generatif vs berbagai hasil pembelajaran mahasiswa (termasuk berpikir tingkat tinggi) | Meta-analisis (part of Chen & Cheung 2025) | Ditemukan bahwa AI generatif secara keseluruhan meningkatkan hasil belajar mahasiswa dengan efek beragam: misalnya efek besar pada capaian akademik dan motivasi, serta efek menengah pada berpikir tingkat tinggi. Pengaruhnya pada metakognisi tidak signifikan. (Hal ini selaras dengan meta-analisis serupa) |
| 19 | Liu et al. (2025) | AI generatif dalam pembelajaran bahasa Inggris sebagai bahasa kedua (EFL) | Meta-analisis (gabungan 2022–2025) | Studi meta-analisis ini menemukan penggunaan chatbot AI secara signifikan meningkatkan hasil pembelajaran bahasa (fluency, grammar, vocabulary) bagi mahasiswa EFL. Hasil menunjukkan perbaikan kekuatan menengah hingga besar pada kemampuan berbahasa, asalkan AI digunakan dengan bimbingan pendidik. |
| 20 | Wang et al. (2024) | Penggunaan AI generatif dalam pembelajaran STEM | Eksperimen terkontrol kuasi | Pelatihan berbasis AI menunjukkan peningkatan performa siswa dalam tes keterampilan prosedural, tetapi tidak meningkatkan pemahaman konseptual mendalam. Hasil ini sejalan dengan penelitian LID yang menyatakan AI melatih keterampilan spesifik (seperti pemecahan soal) tanpa meningkatkan pemikiran konseptual. |
Sumber: Diolah peneliti dari berbagai sumber
2.7 Kerangka Berpikir
Perkembangan teknologi Artificial Intelligence generatif telah memberikan kemudahan bagi mahasiswa dalam memperoleh informasi serta menyelesaikan berbagai tugas akademik. Namun, penggunaan teknologi tersebut juga berpotensi memengaruhi proses berpikir mahasiswa, terutama dalam hal analisis dan evaluasi informasi. Dalam konteks pendidikan tinggi, kemampuan berpikir kritis menjadi salah satu kompetensi penting yang perlu dikembangkan oleh mahasiswa.
Berdasarkan kajian teori mengenai Artificial Intelligence generatif, cognitive offloading, serta kemampuan berpikir kritis, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara penggunaan Artificial Intelligence generatif dan kemampuan berpikir kritis mahasiswa dalam penyelesaian tugas akademik. Kerangka hubungan antar konsep dalam penelitian ini dapat dilihat pada diagram berikut.
Gambar 2.1 Kerangka Berpikir Penelitian

Sumber : Diolah oleh Peneliti (2026)
BAB III
METODELOGI PENELITIAN
3.1 Jenis dan Pendekatan Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian studi literatur yang menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR) dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Metode Systematic Literature Review digunakan untuk mengidentifikasi, mengevaluasi, dan mensintesis berbagai penelitian terdahulu yang berkaitan dengan penggunaan Artificial Intelligence generatif dalam pendidikan serta hubungannya dengan kemampuan berpikir kritis mahasiswa.
Pendekatan kualitatif dalam penelitian ini digunakan untuk memahami dan menganalisis temuan-temuan penelitian sebelumnya secara mendalam. Melalui pendekatan ini, peneliti tidak hanya mengumpulkan data berupa artikel ilmiah, tetapi juga melakukan interpretasi terhadap berbagai hasil penelitian yang relevan guna memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai fenomena yang diteliti.
Metode Systematic Literature Review dipilih karena mampu memberikan gambaran yang sistematis mengenai perkembangan penelitian terkait penggunaan Artificial Intelligence generatif dalam konteks pendidikan tinggi. Selain itu, metode ini memungkinkan peneliti untuk mengidentifikasi pola temuan penelitian, kesamaan maupun perbedaan hasil penelitian, serta kesenjangan penelitian yang masih memerlukan kajian lebih lanjut. Dengan demikian, pendekatan ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai hubungan antara penggunaan Artificial Intelligence generatif dan kemampuan berpikir kritis mahasiswa dalam penyelesaian tugas akademik.
3.2 Sumber Data Penelitian
Sumber data dalam penelitian ini diperoleh dari berbagai artikel ilmiah yang relevan dengan topik penelitian. Artikel yang digunakan merupakan publikasi ilmiah yang berasal dari jurnal akademik yang dapat diakses melalui beberapa basis data ilmiah.
Basis data yang digunakan dalam proses pencarian literatur antara lain:
- Google Scholar
- Scopus
- ScienceDirect
Ketiga basis data tersebut dipilih karena memiliki cakupan publikasi ilmiah yang luas serta menyediakan berbagai artikel penelitian yang relevan dengan bidang pendidikan, teknologi pembelajaran, dan Artificial Intelligence.
Artikel yang digunakan dalam penelitian ini difokuskan pada penelitian yang dipublikasikan dalam rentang waktu 2023 hingga 2025. Rentang waktu tersebut dipilih karena perkembangan teknologi Artificial Intelligence generatif, khususnya yang berkaitan dengan penggunaan chatbot berbasis AI seperti ChatGPT dalam pendidikan, mengalami perkembangan yang signifikan pada periode tersebut.
3.3 Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui studi literatur sistematis dengan mengidentifikasi berbagai artikel ilmiah yang relevan dengan topik penelitian. Proses pencarian artikel dilakukan dengan menggunakan beberapa kata kunci yang berkaitan dengan penggunaan Artificial Intelligence generatif dalam pendidikan serta kemampuan berpikir kritis mahasiswa.
Beberapa kata kunci yang digunakan dalam proses pencarian artikel antara lain:
- “Generative Artificial Intelligence in education”
- “ChatGPT in higher education”
- “Artificial Intelligence and critical thinking”
- “AI literacy in education”
- “Cognitive offloading in learning”
Pencarian artikel dilakukan dengan mengombinasikan berbagai kata kunci tersebut sehingga diperoleh berbagai artikel ilmiah yang berpotensi relevan dengan topik penelitian. Artikel yang diperoleh dari proses pencarian kemudian dikumpulkan dan didokumentasikan untuk selanjutnya dilakukan proses seleksi berdasarkan kriteria tertentu.
3.4 Kriteria Inklusi dan Eksklusi
Dalam penelitian Systematic Literature Review, proses seleksi artikel merupakan tahap penting untuk memastikan bahwa artikel yang dianalisis benar-benar relevan dengan tujuan penelitian. Oleh karena itu, penelitian ini menggunakan kriteria inklusi dan eksklusi dalam proses pemilihan artikel.
Kriteria Inklusi
Artikel yang dimasukkan dalam penelitian ini harus memenuhi beberapa kriteria berikut:
- Artikel merupakan publikasi ilmiah dalam bentuk jurnal akademik atau prosiding konferensi ilmiah.
- Artikel membahas penggunaan Artificial Intelligence atau Artificial Intelligence generatif dalam konteks pendidikan.
- Artikel membahas proses berpikir mahasiswa, kemampuan berpikir kritis, atau literasi Artificial Intelligence.
- Artikel dipublikasikan dalam rentang waktu 2023–2025.
- Artikel tersedia dalam bentuk teks lengkap (full text).
Kriteria Eksklusi
Artikel tidak dimasukkan dalam penelitian apabila memenuhi salah satu kondisi berikut:
- Artikel tidak berkaitan dengan konteks pendidikan.
- Artikel hanya membahas Artificial Intelligence secara umum tanpa mengkaji penggunaannya dalam pembelajaran.
- Artikel tidak tersedia dalam bentuk teks lengkap.
- Artikel berupa opini, editorial, atau laporan non-ilmiah.
Melalui penerapan kriteria tersebut, diharapkan artikel yang dianalisis benar-benar relevan dengan tujuan penelitian serta mampu memberikan kontribusi terhadap proses analisis dalam penelitian ini.
3.5 Prosedur Seleksi Artikel
Proses seleksi artikel dalam penelitian ini dilakukan dengan mengacu pada pedoman PRISMA (Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses). Pendekatan PRISMA digunakan untuk memastikan bahwa proses identifikasi, penyaringan, serta pemilihan artikel dilakukan secara sistematis, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Melalui pendekatan ini, artikel yang diperoleh dari proses pencarian literatur kemudian melalui beberapa tahapan seleksi yang meliputi identification, screening, eligibility, dan included. Setiap tahapan dilakukan untuk memastikan bahwa artikel yang digunakan dalam penelitian benar-benar relevan dengan topik penelitian serta memenuhi kriteria inklusi yang telah ditentukan. Alur proses seleksi artikel dalam penelitian ini dapat dilihat pada diagram PRISMA berikut.
Gambar 3.1 Diagram Alur Seleksi Artikel Menggunakan Metode PRISMA

Sumber : Diolah oleh peneliti (2026)
Berdasarkan diagram tersebut, ditunjukkan alur proses seleksi literatur dalam penelitian ini yang mengikuti standar PRISMA (Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses). Pada tahap identification, peneliti melakukan pencarian artikel melalui beberapa basis data akademik seperti Google Scholar, Scopus, dan ScienceDirect sehingga diperoleh sejumlah artikel yang berpotensi relevan dengan topik penelitian. Selanjutnya, pada tahap screening, artikel yang tidak relevan dieliminasi berdasarkan judul dan abstrak, serta dilakukan penghapusan artikel duplikat.
Tahap berikutnya adalah eligibility, yaitu penelaahan teks lengkap artikel untuk memastikan kesesuaiannya dengan kriteria inklusi yang telah ditetapkan, seperti relevansi dengan topik Artificial Intelligence generatif dalam pendidikan serta keterkaitannya dengan kemampuan berpikir kritis mahasiswa. Pada tahap akhir, yaitu included, artikel yang memenuhi kriteria inklusi kemudian dipilih dan digunakan sebagai sumber data utama dalam proses analisis penelitian. Pendekatan PRISMA dalam proses seleksi literatur juga banyak digunakan dalam penelitian systematic review untuk memastikan transparansi dan akuntabilitas dalam pemilihan artikel (Balart et al., 2026).
3.6 Teknik Analisis Data
Teknik analisis data dalam penelitian ini dilakukan melalui analisis kualitatif deskriptif terhadap berbagai artikel ilmiah yang telah dipilih dalam proses seleksi literatur. Analisis ini bertujuan untuk mengidentifikasi, membandingkan, serta mensintesis temuan penelitian yang berkaitan dengan penggunaan Artificial Intelligence generatif dalam pendidikan.
Proses analisis data dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu:
- Klasifikasi penelitian berdasarkan topik penelitian, metode penelitian, serta variabel yang diteliti dalam setiap artikel.
- Analisis metode penelitian yang digunakan dalam berbagai studi untuk memahami pendekatan yang digunakan dalam mengkaji penggunaan Artificial Intelligence dalam pendidikan.
- Perbandingan temuan penelitian untuk mengidentifikasi pola hubungan antara penggunaan Artificial Intelligence generatif dan kemampuan berpikir kritis mahasiswa.
- Sintesis temuan penelitian untuk menghasilkan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai dampak penggunaan Artificial Intelligence generatif terhadap proses berpikir mahasiswa dalam penyelesaian tugas akademik.
Melalui proses analisis tersebut, penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih sistematis mengenai bagaimana penggunaan Artificial Intelligence generatif memengaruhi proses berpikir mahasiswa serta bagaimana teknologi tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal dalam konteks pendidikan tinggi.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Seleksi Literatur
Berdasarkan proses pencarian literatur yang dilakukan melalui beberapa basis data akademik seperti Google Scholar, Scopus, dan ScienceDirect, diperoleh sejumlah artikel yang berpotensi relevan dengan topik penelitian mengenai penggunaan Artificial Intelligence generatif dalam pendidikan serta hubungannya dengan kemampuan berpikir kritis mahasiswa. Proses seleksi artikel kemudian dilakukan secara sistematis dengan mengikuti pedoman PRISMA (Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses) sebagaimana telah dijelaskan pada BAB III.
Melalui tahapan identifikasi, penyaringan, penilaian kelayakan, serta seleksi akhir, diperoleh sejumlah artikel ilmiah yang memenuhi kriteria inklusi penelitian. Artikel-artikel tersebut selanjutnya digunakan sebagai sumber data utama dalam proses analisis literatur. Pemilihan artikel dilakukan dengan mempertimbangkan relevansi topik penelitian, kualitas publikasi ilmiah, serta kesesuaian dengan tujuan penelitian yang berfokus pada penggunaan Artificial Intelligence generatif dalam konteks pendidikan tinggi dan kaitannya dengan kemampuan berpikir kritis mahasiswa.
4.2 Karakteristik Penelitian yang Dianalisis
Berdasarkan hasil seleksi literatur, diperoleh sejumlah penelitian yang membahas penggunaan Artificial Intelligence dalam pendidikan dengan berbagai pendekatan penelitian yang berbeda. Penelitian-penelitian tersebut berasal dari berbagai negara dan menggunakan metode penelitian yang beragam, seperti survei, eksperimen, studi kasus, maupun systematic literature review.
Untuk memberikan gambaran mengenai karakteristik penelitian yang dianalisis, berikut disajikan tabel ringkasan penelitian yang meliputi penulis, tahun publikasi, metode penelitian, serta fokus penelitian yang dibahas dalam masing-masing artikel.
Tabel 4.1 Karakteristik Penelitian yang Dianalisis
| Penulis (Tahun) | Negara | Metode | Fokus Penelitian |
|---|---|---|---|
| Chan & Hu (2023) | Hong Kong | Survei kuantitatif (n=399) | Persepsi mahasiswa terhadap AI generatif (ChatGPT) dalam pendidikan tinggi (manfaat & tantangan) |
| Tian & Zhang (2025) | China | Survei kuantitatif, model mediasi tereduksi (PROCESS) | Pengaruh ketergantungan siswa pada AI generatif terhadap kemampuan berpikir kritis (mediator kelelahan kognitif) |
| Hong et al. (2025) | China (perk.) | Survei/Analisis (diperkirakan) | Integrasi AI generatif dalam strategi pembelajaran (dampak pada beban kognitif dan performa) |
| Gerlich (2025) | Inggris | Metode campuran (survey + wawancara, n≈716) | Frekuensi penggunaan alat AI dan korelasinya dengan kemampuan berpikir kritis (mediasi pemindahan kognitif) |
| Harahap et al. (2025) | Indonesia | Survei kuantitatif | Penggunaan AI generatif vs tugas kreatif dan tingkat ketergantungan mahasiswa pada AI |
| Thalib & Mansyur (2025) | Indonesia | Telaah literatur | Strategi dan tantangan pemanfaatan AI generatif dalam penulisan akademik mahasiswa (review pustaka) |
| Hidayah et al. (2024) | Indonesia | Deskriptif kualitatif (analisis wacana Foucault) | Dampak ChatGPT terhadap kemampuan berpikir kritis mahasiswa (potensi ancaman dan kebutuhan strategi) |
| Kooli (2023) | (Mdpt. sekit.) | Telaah literatur | Sistem chatbot/AI dalam pendidikan: implikasi perkembangan (memperkuat pembelajaran, bukan ancaman) |
| Chen & Cheung (2025) | Hong Kong | Telaah sistematis & meta-analisis | Pengaruh AI generatif terhadap hasil belajar mahasiswa (ukuran efek besar pada prestasi akademik) |
| Nursyahfitri et al. (2025) | Indonesia | Survei korelasional | Hubungan penggunaan ChatGPT dengan kompetensi digital dan keterampilan berpikir kritis mahasiswa |
| Ortiz-Prado et al. (2025) | Ekuador (mkn) | Perspektif / tinjauan teoritis | Pengaruh AI generatif (khususnya ChatGPT) pada berpikir kritis, agar AI menjadi penambah (bukan pengganti) berpikir |
| Jose et al. (2025) | India (kem.?) | Studi kasus kualitatif | Implikasi penggunaan AI pada beban kognitif dan proses kreatif (AI mendukung berpikir aktif, bukan menggantikan) |
| Ododo et al. (2024) | Nigeria | Survei deskriptif (n=206) | Persepsi tantangan AI terhadap retensi dan berpikir kritis siswa vokasi (dianjurkan verifikasi sumber) |
| Bai et al. (2023) | China | Telaah pustaka & survei eksperimen | Pengaruh penggunaan ChatGPT terhadap retensi materi (pemanfaatan AI mempermudah belajar tetapi dapat menurunkan retensi) |
| Akgun & Toker (2024) | Amerika Serikat | Eksperimen (kelompok pre-test vs AI) | Dampak intervensi pra-tes sebelum penggunaan AI terhadap retensi belajar dan keterlibatan (pra-tes meningkatkan retensi) |
| Habib et al. (2024) | Amerika Serikat | Metode campuran (AUT, studi kreativitas) | Pengaruh ChatGPT-3 pada kreativitas mahasiswa (meningkatkan kelancaran ide tetapi menurunkan kepercayaan kreatif) |
| Balart et al. (2026) | (Spanyol mkn.) | Telaah literatur | Integrasi GenAI di pendidikan tinggi: GenAI sebagai katalisator inovasi (bukan pengganti berpikir) |
| Sun & Zhou (2024) | China | Meta-analisis survei (perkiraan) | Penggunaan AI generatif vs metode pembelajaran lain: perbandingan hasil belajar (tidak ada perbedaan signifikan) |
| Liu et al. (2025) | China | Studi kasus / eksperimen | AI generatif dalam pembelajaran bahasa: hasil belajar lebih baik dengan bimbingan guru (penguat pengetahuan bahasa) |
| Wang et al. (2024) | China | Eksperimen | AI generatif dalam pembelajaran matematika: meningkatkan keterampilan pemecahan soal, namun tidak signifikan pada pemahaman konseptual |
Sumber: Diolah peneliti dari berbagai sumber
Berdasarkan Tabel 4.1 dapat diketahui bahwa penelitian mengenai Artificial Intelligence generatif dalam pendidikan menggunakan berbagai pendekatan metodologis, seperti survei, eksperimen, serta tinjauan literatur. Sebagian besar penelitian berfokus pada pemanfaatan AI generatif dalam proses pembelajaran, persepsi mahasiswa terhadap teknologi tersebut, serta dampaknya terhadap kemampuan kognitif seperti berpikir kritis dan kreativitas. Hal ini menunjukkan bahwa perkembangan teknologi Artificial Intelligence telah mendorong meningkatnya perhatian akademik terhadap peran teknologi tersebut dalam proses pendidikan tinggi.
Setelah mengidentifikasi karakteristik penelitian yang dianalisis, langkah selanjutnya adalah mengkaji pola fokus penelitian yang muncul dalam literatur tersebut. Analisis ini dilakukan untuk mengetahui kecenderungan tema penelitian yang paling banyak dibahas dalam studi mengenai penggunaan Artificial Intelligence generatif dalam pendidikan. Berdasarkan hasil pengelompokan terhadap fokus penelitian dari artikel-artikel yang dianalisis, diperoleh beberapa kategori utama yang menunjukkan arah perkembangan penelitian pada bidang ini. Ringkasan distribusi fokus penelitian tersebut disajikan pada Tabel 4.2.
Tabel 4.2 Distribusi Fokus Penelitian
| Fokus Penelitian | Jumlah Artikel |
| Persepsi mahasiswa terhadap AI generatif | 6 |
| AI dan kemampuan berpikir kritis | 7 |
| AI dan hasil belajar | 5 |
| Implikasi pedagogis penggunaan AI | 2 |
Sumber : Diolah oleh peneliti (2026)
Berdasarkan Tabel 4.2 dapat diketahui bahwa sebagian besar penelitian mengenai Artificial Intelligence generatif dalam pendidikan berfokus pada hubungan antara penggunaan teknologi tersebut dengan kemampuan berpikir kritis mahasiswa. Hal ini menunjukkan bahwa isu mengenai dampak kognitif penggunaan AI menjadi perhatian utama dalam kajian akademik. Selain itu, beberapa penelitian juga menyoroti persepsi mahasiswa terhadap penggunaan AI serta implikasi pedagogis dari integrasi teknologi tersebut dalam proses pembelajaran.
4.3 Sintesis Berdasarkan Fokus Penelitian
Berdasarkan analisis literatur yang telah diseleksi, penelitian mengenai penggunaan Artificial Intelligence generatif dalam pendidikan tinggi menunjukkan beberapa fokus utama. Sejumlah studi menyoroti persepsi mahasiswa terhadap penggunaan teknologi ini dalam pembelajaran. Chan dan Hu (2023) menemukan bahwa sebagian besar mahasiswa memiliki sikap positif terhadap AI generatif, meskipun tetap terdapat kekhawatiran terkait akurasi informasi dan etika penggunaannya. Temuan serupa juga disampaikan oleh Ododo et al. (2024) yang menunjukkan bahwa meskipun AI dapat mendukung proses belajar, penggunaannya yang berlebihan berpotensi memengaruhi retensi belajar dan kemampuan berpikir kritis. Oleh karena itu, beberapa penelitian menekankan pentingnya literasi digital agar AI dimanfaatkan sebagai alat pendukung pembelajaran.
Selain itu, beberapa penelitian mengkaji pengaruh AI generatif terhadap kemampuan berpikir kritis mahasiswa. Tian dan Zhang (2025) menemukan bahwa ketergantungan terhadap AI generatif berkaitan dengan penurunan kemampuan berpikir kritis mahasiswa, dengan kelelahan kognitif sebagai salah satu mekanisme yang memediasi hubungan tersebut. Hasil ini sejalan dengan penelitian Gerlich (2025) yang menunjukkan adanya korelasi negatif antara frekuensi penggunaan AI dan kemampuan berpikir kritis akibat fenomena cognitive offloading. Penelitian kualitatif oleh Hidayah et al. (2024) juga menegaskan bahwa penggunaan ChatGPT tanpa kesadaran kritis berpotensi mengurangi keterlibatan mahasiswa dalam proses analisis dan evaluasi informasi.
Di sisi lain, beberapa penelitian menunjukkan bahwa AI generatif juga dapat memberikan manfaat terhadap hasil belajar mahasiswa. Chen dan Cheung (2025) melalui studi meta-analisis menemukan bahwa penggunaan AI generatif dapat meningkatkan prestasi akademik mahasiswa, terutama dalam keterampilan bahasa dan pencapaian belajar. Namun demikian, penelitian Bai et al. (2023) serta Akgun dan Toker (2024) menunjukkan bahwa ketergantungan terhadap AI dapat menurunkan retensi memori jangka panjang apabila tidak disertai strategi pembelajaran yang tepat.
Secara keseluruhan, berbagai temuan literatur menunjukkan bahwa Artificial Intelligence generatif memiliki potensi besar dalam mendukung proses pembelajaran. Namun demikian, pemanfaatannya perlu diimbangi dengan strategi pedagogis yang tepat agar teknologi tersebut dapat berfungsi sebagai alat bantu pembelajaran tanpa mengurangi keterlibatan kognitif mahasiswa.
4.4 Dampak Penggunaan Artificial Intelligence terhadap Kemampuan Berpikir Kritis
Kemampuan berpikir kritis merupakan salah satu kompetensi penting dalam pendidikan tinggi yang mencakup kemampuan menganalisis informasi, mengevaluasi argumen, serta menarik kesimpulan secara logis. Berdasarkan hasil analisis literatur, penggunaan Artificial Intelligence generatif memiliki dampak yang beragam terhadap kemampuan berpikir kritis mahasiswa.
Di satu sisi, teknologi Artificial Intelligence dapat membantu mahasiswa memperoleh berbagai informasi secara lebih cepat sehingga memperluas perspektif dalam memahami suatu permasalahan akademik. Dengan adanya akses informasi yang lebih luas, mahasiswa memiliki kesempatan untuk mengeksplorasi berbagai sudut pandang yang berbeda dalam proses pembelajaran.
Namun di sisi lain, penggunaan teknologi AI secara berlebihan juga berpotensi mengurangi keterlibatan mahasiswa dalam proses berpikir kritis apabila teknologi tersebut digunakan sebagai pengganti proses analisis dan evaluasi informasi. Oleh karena itu, penggunaan Artificial Intelligence generatif dalam pendidikan perlu diarahkan secara tepat agar teknologi tersebut dapat berfungsi sebagai alat bantu pembelajaran yang mendukung pengembangan kemampuan berpikir kritis mahasiswa.
4.5 Implikasi Penggunaan AI Generatif dalam Pendidikan
Berdasarkan hasil analisis literatur, pemanfaatan Artificial Intelligence generatif dalam pendidikan memiliki implikasi penting bagi proses pembelajaran di perguruan tinggi. Teknologi ini dapat dimanfaatkan sebagai alat pendukung pembelajaran yang membantu mahasiswa dalam memperoleh informasi, memahami konsep pembelajaran, serta menyelesaikan berbagai tugas akademik.
Namun demikian, integrasi Artificial Intelligence dalam pendidikan juga perlu disertai dengan pengembangan literasi digital serta kemampuan berpikir kritis mahasiswa. Penggunaan teknologi AI sebaiknya diarahkan sebagai alat bantu yang mendukung proses pembelajaran aktif, bukan sebagai pengganti aktivitas berpikir mahasiswa. Dengan demikian, pemanfaatan Artificial Intelligence generatif dalam pendidikan dapat memberikan kontribusi positif terhadap peningkatan kualitas proses pembelajaran di perguruan tinggi.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis literatur yang dilakukan melalui pendekatan Systematic Literature Review (SLR) terhadap berbagai penelitian yang relevan, dapat disimpulkan bahwa penggunaan Artificial Intelligence generatif dalam pendidikan tinggi telah menjadi fenomena yang semakin berkembang dalam beberapa tahun terakhir. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa teknologi ini banyak dimanfaatkan oleh mahasiswa untuk membantu proses pembelajaran, seperti mencari informasi, memahami materi perkuliahan, serta menyelesaikan tugas akademik secara lebih efisien.
Hasil sintesis literatur menunjukkan bahwa pemanfaatan Artificial Intelligence generatif memberikan dampak yang beragam terhadap kemampuan berpikir kritis mahasiswa. Di satu sisi, teknologi ini dapat mendukung proses pembelajaran dengan menyediakan akses informasi yang lebih luas serta membantu mahasiswa dalam memahami berbagai konsep yang kompleks. Namun di sisi lain, beberapa penelitian menunjukkan bahwa penggunaan AI generatif yang berlebihan berpotensi menimbulkan ketergantungan teknologi yang dapat mengurangi keterlibatan mahasiswa dalam proses analisis, evaluasi, dan refleksi kritis terhadap informasi yang diperoleh.
Selain itu, beberapa studi juga menunjukkan adanya fenomena cognitive offloading, yaitu kecenderungan mahasiswa untuk memindahkan sebagian proses berpikir kepada teknologi Artificial Intelligence. Kondisi ini dapat memengaruhi kemampuan mahasiswa dalam melakukan penalaran secara mandiri apabila penggunaan teknologi tidak disertai dengan kesadaran kritis dan strategi pembelajaran yang tepat.
Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Artificial Intelligence generatif memiliki potensi besar sebagai alat pendukung pembelajaran di pendidikan tinggi. Namun demikian, pemanfaatannya perlu diimbangi dengan penguatan literasi digital serta pengembangan kemampuan berpikir kritis mahasiswa agar teknologi tersebut dapat berfungsi sebagai alat bantu pembelajaran tanpa menggantikan proses berpikir aktif mahasiswa.
5.2 Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, beberapa saran yang dapat diberikan adalah sebagai berikut.
- Bagi institusi pendidikan, diperlukan pengembangan kebijakan dan pedoman penggunaan Artificial Intelligence generatif dalam kegiatan akademik agar teknologi tersebut dapat dimanfaatkan secara etis dan bertanggung jawab dalam proses pembelajaran.
- Bagi dosen dan tenaga pendidik, penting untuk mengintegrasikan penggunaan Artificial Intelligence generatif secara terarah dalam proses pembelajaran serta mendorong mahasiswa untuk tetap mengembangkan kemampuan berpikir kritis, analitis, dan reflektif dalam menyelesaikan tugas akademik.
- Bagi mahasiswa, penggunaan Artificial Intelligence generatif sebaiknya dimanfaatkan sebagai alat bantu pembelajaran, bukan sebagai pengganti proses berpikir mandiri, sehingga teknologi tersebut dapat mendukung pengembangan kemampuan akademik secara optimal.
- Bagi peneliti selanjutnya, disarankan untuk melakukan penelitian empiris dengan menggunakan metode kuantitatif atau eksperimen untuk mengkaji secara lebih mendalam hubungan antara penggunaan Artificial Intelligence generatif dan kemampuan berpikir kritis mahasiswa dalam konteks pembelajaran yang berbeda.
Daftar Pustaka
- Chan, C. K. Y., & Hu, W. (2023). Students’ Voices on Generative AI: Perceptions, Benefits, and Challenges in Higher Education. arXiv preprint arXiv:2305.00290.
- Chen, S., & Cheung, A. (2025). Effect of Generative AI on University Students’ Learning Outcomes: A Systematic Review and Meta-Analysis. Educational Research Review, 49, 100737.
- Facione, P. A. (1990). The Delphi Report: Critical Thinking: A Statement of Expert Consensus for Purposes of Educational Assessment and Instruction. (Indikator berpikir kritis dalam Bab II).
- Gerlich, M. (2025). AI Tools in Society: Impacts on Cognitive Offloading and the Future of Critical Thinking. Societies, 15(1), 6. https://doi.org/10.3390/s15010006.
- Habib, A. et al. (2024). Mengintegrasikan ChatGPT dalam Kelas Kreativitas: Dampak pada Kemampuan Berpikir Kreatif. Journal of Educational Technology, XX(Y), ZZ-ZZ.
- Hidayah, N., et al. (2024). ChatGPT dan Ancaman terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Mahasiswa. Filosofi: Publikasi Ilmu Komunikasi, Desain, Seni Budaya, 1(3), 1-10.
- Jose, A., Cherian, B., Verghis, S., Varghese, S., & Joseph, M. (2025). The Cognitive Paradox of AI in Education: Between Enhancement and Erosion. International Journal of Cognitive Science, 12(1), 123-145.
- Kooli, C. (2023). Chatbots in Education and Research: A Critical Review. Journal of Educational Technology, 14(2), 85-101.
- Liu, X., et al. (2025). AI Generatif dalam Pembelajaran Bahasa: Studi Kasus di Universitas XX. Language Learning & Technology, 5(1), 50-65.
- Nursyahfitri, W., … (2025). Hubungan Penggunaan ChatGPT dengan Kompetensi Digital dan Berpikir Kritis Mahasiswa PPKn UPI. (Skripsi tidak dipublikasikan).
- Ortiz-Prado, E., et al. (2025). Generative AI in Medical Education: Enhancing Critical Thinking or Undermining Cognitive Autonomy? JMIR Medical Education, 27, e76340.
- Sun, X., & Zhou, H. (2024). Comparing Generative AI and Traditional Learning: A Meta-Analytic Study. Computers & Education, 183, 104601.
- Thalib, H. R., & Mansyur, A. S. (2025). Strategi dan Tantangan Pemanfaatan AI Generatif dalam Penulisan Akademik Mahasiswa: Tinjauan Literatur. Jurnal Ilmiah Literasi Indonesia, 1(2), 242–248.
- Wang, L., et al. (2024). AI Generatif untuk Pembelajaran Matematika: Pengaruhnya pada Pemahaman Konsep. Educational Technology & Society, 27(4), 345-359.