Angkasa dan Ekonomi: Bagaimana TNI AU Menjadi Penggerak Industri Dirgantara Indonesia
Di tengah hamparan 17.000 pulau yang membentang dari Sabang hingga Merauke, udara menjadi urat nadi yang menghubungkan Indonesia. TNI Angkatan Udara (TNI AU), bukan hanya sekadar penjaga kedaulatan langit nusantara, tapi juga tampil sebagai katalisator yang menggerakkan roda ekonomi di sektor dirgantara nasional.
Pangkalan Militer Sebagai Pusat Pertumbuhan Ekonomi
Pernahkah Anda memperhatikan bagaimana daerah sekitar pangkalan udara militer seringkali berkembang pesat? Ini bukan kebetulan. TNI AU berperan sebagai “institusi jangkar” (anchor institution) yang menarik berbagai kegiatan ekonomi untuk bergerombol di sekitarnya, membentuk apa yang para ekonom sebut sebagai “klaster industri”.
Keberadaan TNI AU terbukti menciptakan efek pengganda (multiplier effect) yang luar biasa bagi perekonomian lokal di sekitar Lanud Halim Perdanakusuma. Setiap rupiah yang dikeluarkan untuk kebutuhan pertahanan udara menghasilkan pengeluaran berantai dengan nilai jauh lebih besar dalam ekosistem ekonomi sekitarnya.
Bagaimana ini bisa terjadi? Bayangkan TNI AU memesan komponen pesawat dari produsen lokal. Produsen tersebut kemudian membeli bahan baku dari pemasok, mempekerjakan teknisi lokal, dan menggunakan jasa transportasi setempat. Inilah yang disebut dengan “kaitan ke belakang” (backward linkages) dalam rantai pasokan. Sementara itu, infrastruktur dan fasilitas yang dibangun TNI AU—seperti landasan pacu, menara kontrol, dan bengkel pemeliharaan—sering dimanfaatkan bersama dengan pihak sipil, menghasilkan efisiensi ekonomi yang signifikan.
Dari Kokpit Militer ke Pasar Sipil
Di sebuah akademi penerbangan swasta di Tangerang, seorang mantan pilot tempur yang kini melatih pilot komersial menjadi contoh nyata fenomena “limpahan pengetahuan” (knowledge spillover) dari militer ke sektor sipil.
Tidak hanya personel, teknologi yang awalnya dikembangkan untuk keperluan militer seringkali berakhir dengan aplikasi sipil yang bermanfaat—sebuah proses yang dikenal sebagai “limpahan teknologi” (spin-off technology). GPS, internet, bahkan beberapa teknologi medis awalnya dikembangkan untuk keperluan militer sebelum digunakan masyarakat umum.
TNI AU juga mendorong pengembangan “teknologi berfungsi ganda” (dual-use technology)—teknologi yang dapat digunakan untuk keperluan sipil dan militer sekaligus. Pesawat CN-235 buatan PT Dirgantara Indonesia (PT DI), misalnya, digunakan baik sebagai pesawat angkut militer maupun pesawat penumpang komersial untuk rute perintis.
Investasi dan Transfer Teknologi: Strategi Kemandirian
Indonesia sengaja mendorong pengembangan industri dirgantara melalui kerjasama dengan negara-negara maju, dengan TNI AU sebagai pengguna utama. Meski pada awalnya membutuhkan investasi besar, strategi ini bertujuan jangka panjang: memperoleh transfer teknologi yang esensial.
Industri dirgantara nasional diharapkan bisa mencapai tingkat kemandirian serupa dengan kereta cepat Jakarta-Surabaya yang saat ini mampu diproduksi hampir seluruhnya di dalam negeri.
PT DI dan Garuda Maintenance Facility (GMF) kini mampu menyediakan jasa perawatan mesin, rangka, dan badan pesawat—memberikan nilai tambah ekonomi yang substansial dan mengurangi ketergantungan pada jasa dari luar negeri.
Tanggung Jawab Ganda: Keamanan dan Kesejahteraan
Di negara kepulauan terbesar di dunia, peran angkutan udara tak tergantikan—terutama dalam situasi darurat. Ketika bencana melanda daerah terpencil, pesawat TNI AU seringkali menjadi satu-satunya harapan untuk pengiriman bantuan cepat.
Pembangunan kapabilitas TNI AU ternyata memiliki dimensi ganda, tidak hanya memperkuat aspek pertahanan tetapi juga menjadi investasi strategis untuk meningkatkan ketahanan ekonomi nasional.
Sekarang saatnya kita memandang pembangunan kekuatan udara bukan hanya sebagai beban anggaran pertahanan, tetapi sebagai katalisator pembangunan ekonomi yang hasilnya bisa dirasakan hingga ke sektor sipil. Dengan pendekatan yang terintegrasi antara pertahanan dan ekonomi, langit Indonesia tidak hanya menjadi medan penjagaan kedaulatan, tetapi juga ruang terbuka bagi inovasi dan pertumbuhan ekonomi nasional.
Septia Ihsani e!24