Potensi dan Tantangan Indonesia dalam BRICS: Langkah Strategis untuk Penguatan Ekonomi dan Diplomasi Global

Dalam ekonomi global yang terus berubah, negara-negara berkembang semakin menyadari pentingnya memperkuat posisi mereka di kancah Internasional. Salah satu organisasi yang paling aktif dalam upaya ini adalah BRICS. BRICS telah berkembang menjadi blok ekonomi yang berpengaruh dalam mendorong kerja sama di antara negara-negara berkembang dengan menyediakan platform alternatif bagi negara-negara yang tidak selalu sejalan dengan kebijakan negara-negara Barat. Baru-baru ini, isu keanggotaan Indonesia dalam BRICS menarik perhatian, terutama terkait peluang ekonomi dan geopolitik yang mungkin dapat terbuka lebar jika Indonesia bergabung dengan BRICS.

Apa itu BRICS?

BRICS adalah sebuah kelompok ekonomi yang pada awalnya didirikan oleh lima negara yaitu Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan. Nama BRICS sendiri merupakan akronim dari inisial 5 negara tersebut. BRICS terbentuk pada awal tahun 2000-an. Orang yang pertama kali memperkenalkan istilah BRICS adalah seorang ekonom bernama Jim O’Neill dari Goldman Sachs, di mana ia memperkenalkan istilah tersebut untuk menggambarkan potensi besar Brasil, Rusia, India, dan China sebagai kekuatan ekonomi baru. Pada saat itu, negara-negara ini diperkirakan akan menjadi pilar pertumbuhan ekonomi global dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi serta populasi dan wilayah geografis yang luas. Saat ini, BRICS telah berkembang menjadi forum kerja sama antarnegara yang memiliki pertumbuhan ekonomi yang cepat. Latar belakang pembentukan BRICS didasari oleh tujuan utama yaitu menciptakan tatanan dunia yang lebih multipolar, yang tidak didominasi oleh negara-negara Barat khususnya Amerika Serikat dan Uni Eropa.

BRICS tidak hanya fokus pada kerja sama aspek ekonomi saja, tetapi juga di aspek politik dan sosial. Salah satu visi utama BRICS adalah untuk mengurangi ketergantungan pada sistem keuangan Barat dengan menciptakan mekanisme pendanaan alternatif seperti New Development Bank (NDB). NDB didirikan pada tahun 2014 sebagai institusi keuangan yang bertujuan untuk mendanai proyek-proyek infrastruktur dan pembangunan berkelanjutan di negara-negara BRICS serta negara berkembang lainnya. Dengan adanya NDB, BRICS berharap dapat mengurangi ketergantungan pada lembaga-lembaga keuangan seperti Bank Dunia dan International Monetary Fund (IMF) yang seringkali dianggap memberlakukan persyaratan ketat dan cenderung menguntungkan negara-negara Barat saja. BRICS juga menekankan pentingnya kerja sama dalam isu-isu global lainnya seperti keamanan, perubahan iklim, dan inovasi teknologi. Dalam tataran geopolitik, BRICS bertujuan untuk menciptakan keseimbangan dalam politik global yang selama ini didominasi oleh negara-negara Barat. BRICS berharap dapat membantu untuk memajukan kepentingan negara-negara berkembang di dunia internasional. Dengan demikian, BRICS bukan hanya sekadar aliansi ekonomi, tetapi juga sebuah organisasi yang memiliki pengaruh politis yang besar dalam mendorong perubahan dalam struktur kekuasaan global.

Keanggotaan BRICS

BRICS merupakan kelompok ekonomi yang tidak bersifat eksklusif. Pada prinsipnya, BRICS terbuka untuk negara berkembang lain yang memiliki kesamaan visi dan potensi ekonomi yang besar. Negara yang tertarik untuk bergabung dengan BRICS perlu mengeluarkan pernyataan resmi melalui pemimpinnya atau melalui Menteri Luar Negeri. Negara-negara yang telah menyatakan minatnya sering kali mulai dengan berpartisipasi sebagai negara pengamat dalam pertemuan dan acara-acara BRICS. Selanjutnya, akan dilakukan pertemuan bilateral dengan anggota BRICS untuk membahas persyaratan dan kondisi keanggotaan. Proses ini sering kali berlangsung lama karena mengingat banyak hal yang perlu dipertimbangkan dan evaluasi. Keputusan akhir mengenai penerimaan anggota baru biasanya diambil secara konsensus oleh semua negara anggota BRICS. Dengan kata lain, semua negara anggota harus menyetujui negara tersebut untuk bergabung.

Pada mulanya, BRICS hanya beranggotakan 4 negara saja. Namun, pada tahun 2010 Afrika Selatan bergabung dengan BRICS dan mulai berpartisipasi secara penuh dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) pada tahun 2011. Tidak hanya Afrika Selatan saja yang menjadi anggota baru dari BRICS, belakangan ini banyak negara mulai mempertimbangkan untuk bergabung dengan BRICS. Pada Agustus 2023, Argentina, Mesir, Ethiopia, Iran, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab diundang untuk bergabung ke BRICS hingga pada akhirnya bertepatan dengan Januari 2024, Mesir, Ethiopia, Iran, dan Uni Emirat Arab resmi bergabung sebagai negara anggota BRICS. Indonesia juga tidak ingin tertinggal, melalui keterangan resmi Menteri Luar Negeri Sugiono, di mana ia menghadiri KTT BRICS Plus di Kazan, Rusia untuk mengutarakan keinginan Indonesia untuk bergabung dengan BRICS. Hal ini bertujuan sebagai bentuk pengejawantahan politik luar negeri yang bebas aktif sehingga dengan bergabungnya Indonesia dengan BRICS tidak mengisyaratkan bangsa Indonesia mengikuti suatu kubu tertentu.

Potensi Manfaat bagi Indonesia

  1. Akses ke Pasar Baru


Bergabungnya Indonesia dengan BRICS dapat memberikan Indonesia peluang akses ke pasar yang lebih luas. Negara-negara anggota BRICS memiliki populasi penduduk yang besar dan tingkat konsumsi yang tinggi sehingga menjadikannya pasar yang potensial bagi produk-produk buatan Indonesia. Komoditas seperti kelapa sawit, kopi, hasil laut hingga berbagai jenis produk manufaktur dapat menembus pasar-pasar negara anggota BRICS yang menjanjikan. Dengan membuka akses ke pasar-pasar baru ini, Indonesia dapat mengurangi ketergantungan pada pasar konvensional seperti Amerika Serikat atau Eropa yang cenderung fluktuatif dan seringkali terpengaruh oleh kebijakan proteksionis. BRICS dapat memberikan keuntungan ekonomi yang besar bagi Indonesia terutama dalam meningkatkan volume perdagangan dengan negara-negara Global South. Pada tahun 2022, total nilai perdagangan Indonesia dengan negara-negara anggota BRICS sangatlah besar yang didominasi oleh perdagangan dengan China. Namun, perdagangan dengan negara anggota lainnya seperti Brasil ataupun Afrika Selatan terbilang masih relatif kecil, meskipun sebenarnya kedua negara tersebut memiliki potensi yang besar sebagai mitra perdagangan Indonesia.

Sumber : Kementerian Perdagangan (diolah)

  1. Kerja Sama Bidang Tenaga dan Energi

Dengan bergabungnya Arab Saudi dan Uni Emirat Arab membuat BRICS semakin memiliki pengaruh di dalam pasar minyak global. Setelah Arab Saudi dan UEA bergabung, maka BRICS akan mengendalikan 43% pasar minyak dunia. Hal ini dapat membuka peluang bagi Indonesia untuk ikut berkolaborasi dalam sektor energi guna memperkuat ketahanan energi nasional. Dengan bergabungnya Indonesia dengan BRICS tidak hanya memperluas jaringan ekonomi saja, tetapi dapat membuka peluang besar bagi Indonesia di berbagai sektor.

Sumber : Trading Economics (diolah)

  1. Meningkatkan Pariwisata Nasional

Wisatawan dari negara-negara anggota BRICS memiliki kontribusi besar terhadap pariwisata nasional dan global. Setelah bergabungnya Indonesia dalam keanggotaan BRICS, langkah ini diharapkan dapat meningkatkan kunjungan serta memperkuat sektor pariwisata nasional. Selain peningkatan jumlah kunjungan, keanggotaan di BRICS membuka peluang investasi di infrastruktur pariwisata berkelanjutan termasuk pembangunan destinasi ramah lingkungan dan pelestarian wisata budaya dan alam. Kerja sama dalam sektor pariwisata dapat mempercepat langkah Indonesia untuk transformasi digital di sektor pariwisata, meningkatkan pengalaman wisatawan, dan memperkuat daya saing di tingkat internasional. 

  1. Perdagangan Antar Pemerintah dan Perjanjian Bilateral

Perdagangan antar pemerintah dan perjanjian bilateral memiliki peran strategis dalam mengamankan pasokan komoditas penting, seperti pangan dan energi. Indonesia, bersama negara-negara anggota BRICS, memanfaatkan kerja sama diplomatik dan ekonomi untuk memperkuat stabilitas pasokan energi dan bahan pangan dalam negeri. Salah satu contoh kerja sama bilateral yang dilakukan Indonesia adalah kerja sama bilateral antara Indonesia dan Rusia di sektor energi dan pangan. Melalui kerja sama ini, Indonesia mengimpor komoditas utama seperti pupuk dan gandum dari Rusia. Langkah ini tidak hanya membantu menjaga stabilitas pasokan pangan dalam negeri, tetapi juga mengurangi ketergantungan pada pasar global yang rentan terhadap fluktuasi. Selain itu, kerja sama ini turut mendorong peningkatan volume perdagangan dan mendukung pertumbuhan ekonomi melalui optimalisasi impor strategis.

Selain kerja sama dengan Rusia, Indonesia juga menjalin perjanjian bilateral dengan Uni Emirat Arab (UEA) dalam sektor energi dan investasi. Contohnya, melalui Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) yang ditandatangani pada tahun 2022, Indonesia memperoleh akses yang lebih baik untuk produk-produk energi dari UEA seperti minyak dan gas. Sebagai imbal balik, UEA berinvestasi di berbagai proyek strategis di Indonesia termasuk pembangunan kilang minyak dan pengembangan energi terbarukan.

  1. Akses Pembiayaan Infrastruktur Melalui New Development Bank (NDB)

Salah satu tujuan utama BRICS adalah menyediakan sumber pendanaan alternatif bagi negara berkembang melalui New Development Bank (NDB). Indonesia yang memiliki proyek infrastruktur besar seperti Ibu Kota Negara (IKN) dan proyek pembangunan transportasi massal dapat memperoleh pembiayaan lebih terjangkau dibandingkan pinjaman dari lembaga perbankan asal negara Barat seperti Bank Dunia atau IMF. Dengan mengurangi ketergantungan pada lembaga keuangan Barat, Indonesia dapat lebih leluasa mengelola proyek-proyek strategisnya, mempercepat pembangunan infrastruktur, dan meningkatkan daya saing ekonomi dalam skala global.

  1. Penguatan Posisi Global

Selain manfaat ekonomi, keanggotaan di BRICS juga memperkuat posisi Indonesia dalam diplomasi internasional. Sebagai anggota G20 dan ASEAN, Indonesia telah dikenal aktif dalam berbagai isu global. Melalui BRICS, Indonesia mendapat platform tambahan untuk memperjuangkan isu-isu penting bagi negara berkembang seperti perubahan iklim dan reformasi sistem perdagangan dunia. Dengan menjadi anggota BRICS, Indonesia dapat memberikan kontribusi lebih dalam memastikan kepentingan dan suara negara-negara berkembang tidak diabaikan, serta turut serta menciptakan tatanan dunia yang lebih adil dan seimbang.

Tantangan yang Akan Dihadapi Indonesia

  1. Persaingan Kepentingan antar anggota BRICS

BRICS beranggotakan negara-negara yang memiliki kepentingan politik dan ekonomi yang tidak selalu sejalan. Persaingan kepentingan internal ini bisa mempersulit Indonesia untuk mendapatkan manfaat optimal dari BRICS. Oleh karena itu, Indonesia perlu merancang strategi diplomasi yang netral yaitu strategis dalam menjaga hubungan baik dengan seluruh anggota BRICS tanpa terpengaruh oleh konflik atau ketegangan yang mungkin terjadi di antara negara anggota lainnya.

  1. Pengaruh pada Hubungan dengan Negara Barat

BRICS kerap dilihat sebagai kelompok yang bertentangan dengan negara-negara Barat, terutama dalam isu-isu seperti penggunaan dolar AS dalam perdagangan global. Jika Indonesia bergabung, hal ini mungkin berdampak pada hubungan dagang dan diplomatik dengan negara-negara Barat. Untuk menghadapi tantangan ini, Indonesia perlu mengembangkan pendekatan diplomasi yang memastikan bahwa kerja sama dalam BRICS tidak menimbulkan risiko terhadap hubungan strategisnya dengan negara-negara Barat. Ini dapat mencakup upaya untuk memperkuat komunikasi dan hubungan ekonomi dengan Barat dengan tetap berkolaborasi dengan BRICS.

  1. Penyesuaian Kebijakan Ekonomi

Keanggotaan di BRICS mungkin menuntut Indonesia untuk menyesuaikan beberapa kebijakan ekonomi terutama jika BRICS memutuskan untuk membentuk blok perdagangan atau menggunakan mata uang digital bersama. Jika BRICS membentuk blok perdagangan atau memperkenalkan tarif atau kebijakan yang mendorong perdagangan antaranggota, Indonesia mungkin harus mengalihkan sebagian ekspornya dari mitra dagang utama (seperti AS, Jepang, dan Uni Eropa) ke negara-negara BRICS. Tidak hanya itu, jika BRICS mengadopsi mata uang digital atau sistem pembayaran alternatif, Indonesia mungkin perlu menyesuaikan kebijakan moneternya untuk mengikuti kebijakan ini. Indonesia perlu mempertimbangkan dampak dari kebijakan ekonomi dan keuangan BRICS terhadap stabilitas ekonomi domestik dan mempertimbangkan apakah penyesuaian kebijakan ini akan lebih menguntungkan atau justru menimbulkan risiko jangka panjang bagi perekonomian.

  1. Risiko Ketergantungan Ekonomi

Jika Indonesia bergabung dengan BRICS, hubungan perdagangan dan investasi dengan negara-negara anggota menjadi semakin erat. Hal ini dapat memberikan banyak manfaat seperti akses yang lebih baik ke pasar besar dan potensi investasi. Namun, ketergantungan yang terlalu tinggi pada mitra dagang atau pasar dari anggota BRICS juga dapat menciptakan risiko ketergantungan ekonomi yang akan menyebabkan tidak stabilnya perekonomian Indonesia apabila salah satu negara anggota BRICS mengalami konflik atau krisis ekonomi seperti peperangan dan inflasi. BRICS sendiri mencakup negara-negara seperti China, Rusia, dan India yang memiliki pengaruh yang besar terhadap ekonomi global. Apabila salah satu dari negara tersebut mengalami krisis ekonomi atau konflik geopolitik, maka hal ini dapat berdampak pada perdagangan, investasi, dan stabilitas finansial Indonesia.

Kesimpulan

Bergabungnya Indonesia dengan BRICS membuka peluang yang signifikan untuk memperkuat aspek ekonomi dan diplomasi Internasional. Keanggotaan ini memberi akses lebih luas ke pasar negara-negara anggota BRICS sehingga dapat memudahkan ekspor komoditas utama serta memperbesar peluang kerja sama di sektor teknologi dan e-commerce. Selain itu, pendanaan dari New Development Bank (NDB) dapat mempercepat proyek infrastruktur penting seperti IKN tanpa ketergantungan pada lembaga keuangan Barat, mendukung transformasi pertumbuhan ekonomi yang terjadi di Indonesia. Dari sisi diplomasi, Indonesia dapat memainkan peran lebih kuat dan lebih vokal dalam menyuarakan pendapat di kancah internasional terutama dalam isu-isu yang krusial bagi negara berkembang. 

Namun, tantangan pasti akan selalu ada seperti potensi terjadinya persaingan kepentingan antar anggota dan risiko pengaruh terhadap hubungan dengan negara Barat. Indonesia perlu menjaga keseimbangan diplomasi agar tetap independen dan adaptif, serta mempertimbangkan dampak pada kebijakan ekonomi, termasuk kemungkinan (Hendrian, 2023) penggunaan mata uang alternatif. Keputusan negara Indonesia untuk bergabung dengan BRICS dapat memperkokoh posisi Indonesia sebagai kekuatan ekonomi baru dan mitra strategis dalam mewujudkan tatanan dunia yang lebih adil, dengan tetap mempertahankan prinsip politik luar negeri yang bebas aktif. 

References

Al-Fajri, D. (2024, 11 1). Akankah ada pengaruh pertumbuhan ekonomi Indonesia bergabung dengan BRICS? Retrieved from GoodStats: https://goodstats.id/article/akankah-ada-pengaruh-pertumbuhan-ekonomi-indonesia-bergabung-dengan-brics-00xpD

Fernandez, M. (2024, 11 8). Gabung BRICS, pengamat: Indonesia akan makin aktif di pentas dunia. Retrieved from Kabar24.: https://kabar24.bisnis.com/read/20241108/15/1814534/gabung-brics-pengamat-indonesia-akan-makin-aktif-di-pentas-dunia

Hendrian, D. (2023, 10 25). Mengapa Indonesia ingin bergabung dengan BRICS – Barisan negara yang ‘tidak puas’ dengan status quo? Retrieved from BBC Indonesia.: https://www.bbc.com/indonesia/articles/c9l5veplll2o

Intan., G. (2023, 10 24). Menakar dampak ekonomi bagi Indonesia jika bergabung dengan BRICS. Retrieved from VOA Indonesia.: https://www.voaindonesia.com/a/menakar-dampak-ekonomi-bagi-indonesia-jika-bergabung-dengan-brics/7844747.htmlPerdagangan bilateral Indonesia-Rep China periode 2018-2023 (Januari-Maret). (2023, 5 10). Retrieved from Kementerian Perdagangan Republik Indonesia.: https://satudata.kemendag.go.id/ringkasan/negara/perdagangan-bilateral-indonesia-china-periode-2018-2023-januari-maret

Leave a comment