The Case of Global Inequality: Why are some countries rich and why other countries are poor

Introduction to the problem

Di dunia ini, semua bayi lahir tanpa busana, namun yang membedakan mereka dan menempatkan mereka dalam strata sosial yang berbeda adalah pakaian yang mereka kenakan setelah lahir. Ada bayi yang mengenakan pakaian mahal dari butik terkenal, sementara sebagian besar bayi di belahan dunia lain hanya mengenakan pakaian bekas dari anggota keluarganya, atau bahkan tidak memakai pakaian sama sekali hingga melewati usia balita. Hal ini mencerminkan kesenjangan global yang ada di masyarakat kita. Dari ilustrasi ini, muncul pertanyaan yang secara otomatis muncul yaitu: “Mengapa ada kesenjangan global di seluruh dunia dan apa yang membuat suatu negara kaya sementara negara lain miskin?”

Kriteria status sebuah negara dari kekayaannya

Menurut International Monetary Fund (IMF), ada beberapa macam karakteristik negara maju, diantaranya:

  • Pendapatan Per Kapita yang tinggi

PDB per kapita yang lebih tinggi sering kali menandakan pasar yang lebih makmur, menjadikannya tujuan yang menarik untuk investasi di sektor-sektor seperti barang mewah atau jasa kelas atas. Sementara itu, pasar yang diperkirakan akan mengalami peningkatan PDB per kapita dapat menjadi peluang bisnis yang tepat untuk dimanfaatkan.

  • Diversifikasi Sistem Perekonomian

Diversifikasi ekonomi merupakan elemen kunci pembangunan ekonomi dimana suatu negara beralih ke struktur produksi dan perdagangan yang lebih beragam. Kurangnya diversifikasi ekonomi sering dikaitkan dengan meningkatnya kerentanan terhadap guncangan eksternal yang dapat melemahkan prospek pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

  • Sistem Finansial yang maju

Hal ini mengurangi kemiskinan dan kesenjangan dengan memperluas akses pendanaan bagi kelompok miskin dan rentan, memfasilitasi manajemen risiko dengan mengurangi kerentanan mereka terhadap guncangan, dan meningkatkan investasi dan produktivitas yang menghasilkan pendapatan yang lebih tinggi.

  • Harapan Hidup yang tinggi

Meningkatnya angka harapan hidup mengakibatkan jumlah penduduk mengalami peningkatan. Hal ini berdampak pada rasio modal dan tenaga kerja yang mengalami penurunan dan juga menekan pendapatan per kapita

  • Sistem pendidikan yang berkembang dengan baik

Pendidikan secara intrinsik terkait dengan pertumbuhan ekonomi, sehingga mempengaruhi keuntungan ekonomi baik dari gaji pribadi maupun produk domestik bruto (PDB) nasional. Hal ini berkontribusi terhadap kesehatan pasar tenaga kerja, dan angka ketenagakerjaan nasional secara keseluruhan cenderung bergerak sejalan dengan investasi pendidikan.

Dari kriteria tersebut, dapat diketahui apa saja yang membedakan sebuah negara maju dengan negara yang terbelakang. Untuk mengetahui penyebabnya, dapat dianalisis melalui teori dari beberapa para ahli.

Lembaga negara yang ekstraktif

Menurut Daron Acemoglu dan James Robinson (Why Nations Fail: The Origins of Power; 2012.) Beberapa negara mengembangkan lembaga-lembaga inklusif yang mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan dan penciptaan kekayaan, namun banyak negara lain yang bertahan dan mereproduksi lembaga-lembaga ekstraktif yang menghalangi potensi pertumbuhan jangka panjang. Negara-negara terakhir ini mungkin mengalami ledakan kemakmuran yang bersifat sementara seperti Uni Soviet, namun mereka tidak akan mencapai kemakmuran sejati dalam jangka panjang.

Setelah mengkaji sejarah negara-negara di seluruh dunia, Acemoglu dan Robinson menyimpulkan bahwa lembaga-lembaga inklusif pemerintahan yang tersentralisasi namun pluralis, hak milik dan politik yang aman namun terdistribusi secara luas, penerapan hukum yang tidak memihak, dan pasar yang kompetitif — menghasilkan insentif ekonomi yang menghasilkan inovasi terus-menerus. Dengan kerangka kelembagaan yang tepat, kedua ahli ini bahwa kekuatan sosial tertentu seperti elit yang sudah mengakar tidak mampu membatasi tekanan persaingan atau mengendalikan dampak inovasi. Dampaknya adalah pertumbuhan yang berkesinambungan dan berjangka panjang. Namun, sebagian besar negara, seperti yang dijelaskan oleh Acemoglu dan Robinson, negara tersebut tidak pernah mengembangkan lembaga inklusif. Sebaliknya, lembaga-lembaga mereka bersifat ekstraktif, dirancang untuk memaksimalkan kemampuan sekelompok kecil masyarakat elit untuk menjarah sumber daya.

Kapitalisme-Imperialisme

Berdasarkan analisis Karl Marx tentang kapitalisme dan teori klasik imperialisme yang dikemukakan oleh V.I. Lenin – pemimpin Revolusi Bolshevik – dan generasi sosialis revolusioner, ahli ekonom politik radikal, dan pakar hubungan internasional pada periode pasca-Perang Dunia II mengembangkan teori-teori baru tentang ketergantungan, sistem dunia, dan keterbelakangan. Mereka berargumentasi bahwa kolonialisme mengatur perekonomian dunia sedemikian rupa sehingga kekayaan yang dihasilkan di negara-negara pinggiran tersedot kembali ke wilayah inti, sehingga negara-negara pinggiran menjadi miskin dan negara-negara pinggiran menjadi kaya, dan hal ini menjelaskan ketidaksetaraan antara negara-negara di wilayah Selatan dan negara-negara Utara. Oleh karena itu, menurut pendapat mereka, modal terakumulasi secara tidak merata di ruang angkasa dan menyebabkan sebagian masyarakat maju dan sebagian lainnya terbelakang.

Salah satu contoh yang memperkuat teori ini adalah, Para sosiolog mencatat bahwa sistem kapitalis dunia menghasilkan dua bentuk ketidaksetaraan yang saling terkait. Salah satunya adalah kelompok kaya dan miskin di seluruh dunia, seperti yang dicatat oleh Oxfam dalam laporannya, yaitu kesenjangan Antar Manusia. Penyebab lainnya adalah stratifikasi masyarakat dunia menjadi negara-negara kaya dan miskin, atau kesenjangan antar negara. Pendapatan tahunan rata-rata di Kongo adalah $785 per kapita, sedangkan di Belgia, negara yang menjajah Kongo pada akhir abad kesembilan belas, pendapatannya adalah $47.400, menurut data Bank Dunia. Dalam kancah akademis, dunia menjadi terpolarisasi melalui kolonialisme menjadi inti “Dunia Pertama” yang kaya, yang meliputi negara-negara Eropa Barat, Amerika Utara, dan Jepang, sementara wilayah di Amerika Latin, Afrika, dan Asia yang menderita kolonialisme selama berabad-abad dan dominasi negara-negara inti ini terdegradasi ke wilayah pinggiran “Dunia Ketiga”. Dalam beberapa tahun terakhir, para akademisi dan pakar menyebut negara-negara Dunia Ketiga sebagai Dunia Selatan dan Dunia Pertama sebagai Dunia Utara.”

Menurut Marx dan Lenin, untuk menghilangkan kesenjangan dalam kancah internasional, dibutuhkan revolusi proletariat untuk menghapuskan sistem kapitalisme global, dan menggantikan sistem kapitalisme dengan sistem yang lebih adil dalam mendistribusikan kekayaan sesuai dengan berapa banyak individu tersebut berkontribusi kepada masyarakat. Namun, sayangnya teori tersebut mengabaikan dampak positif yang dibawa dari reformasi ekonomi. Salah satu contohnya adalah Korea Selatan, Negara tersebut dulunya setelah Perang Korea merupakan salah satu negara termiskin di asia, bahkan lebih miskin dibanding beberapa negara di Benua Afrika. Namun Korea Selatan menjadi negara yang termasuk terkaya di dunia, dikarenakan reformasi perekonomiannya. Dari kasus Korea Selatan, menunjukan bahwa sebuah masalah ekonomi tidak harus diselesaikan dengan revolusi sistem itu sendiri, namun bisa diselesaikan dengan reformasi.

Kesimpulan

Negara yang maju adalah negara yang sistem perekonomiannya yang membantu untuk mensejahterakan kehidupan rakyatnya, seperti PDB yang tinggi, beragamnya cara menjalankan sistem perekonomian, dan sistem finansial yang maju. Namun, itu semua didukung oleh harapan hidup yang tinggi dan sistem pendidikan yang baik. Maka dari itu sistem perekonomian dan kesejahteraan rakyat saling berkesinambungan.

Namun tidak semua negara mempunyai sistem perekonomian yang baik dan kesejahteraan rakyat yang saling berkesinambungan. Maka dari itu, perlu dicari alasan mengapa terjadinya hal seperti itu, agar bisa mendapatkan solusinya. 

Salah satu kemungkinan penyebabnya adalah lemahnya institusi politik dalam negeri yang tidak bisa mendorong inovasi rakyatnya untuk dibawa ke pasar. Selain institusi politik, kemungkinan penyebab lainnya adalah sistem perekonomian yang condong mendorong keuntungan dibanding kesejahteraan rakyat yang menyebabkan sebuah negara mengkoloni negara lain demi kekayaan, dan menyebabkan suatu negara tidak dapat indepen di perekonomian global.

Maka dari itu untuk lepas dari adanya kesenjangan global, dibutuhkan institusi dalam negara yang dapat mendorong inovasi individu yang bisa ditawar ke pasar negara tersebut, bahkan pasar global, agar dapat meningkatkan produktivitas di dalam negeri tersebut dan produktivitas tersebut bisa membuahkan hasil sebuah kekayaan untuk negara tersebut. Namun juga adanya pengawasan bagaimana pendistribusian kekayaan tersebut, agar tidak ada individu meraup kekayaan tersebut dan menjadi oligarki negara tersebut,yang alhasil hanya akan menjadi penghalang untuk berkembangnya perekonomian dalam negara. Maka dari itu dibutuhkan kerja sama kolektif semua badan masyarakat bagaimana memproduksi dan mendistribusi hasil kekayaannya. Selain strategi internal, dibutuhkan juga kesadaran negara-negara maju untuk tidak ikut campur dalam perekonomian negara-negara berkembang, agar tidak adanya negara berkembang sistem perekonomiannya tidak dikekang oleh negara-negara kaya. Maka dari itu solusi untuk menghilangkan kesenjangan global adalah dengan cara kerja sama kolektif dalam negara dan kesadaran kolektif secara internasional untuk negara kaya tidak mengekang sistem perekonomian negara lain.

Referensi

  • Acemoglu, Daron, and James A. Robinson. 2012. Why Nations Fail. London, England: Profile Books.
  • Chang, H. (2007). Bad samaritans: The myth of free trade and the secret history of capitalism. New York: Bloomsbury Press.
  • Korzeniewicz, P. Roberto. (2015, Oktober 30). The Logic of Global Capitalism. Jacobin.

https://jacobin.com/2015/10/robinson-acemoglu-inclusive-extractive-poverty-wealth/

  • Lenin, V. (2010). Imperialism: The highest stage of capitalism. Penguin Classics.
  • Robinson, I. William (2022, Mei 25). Capitalism and Global Inequality. Global Dialogue.

https://globaldialogue.isa-sociology.org/articles/capitalism-and-global-inequality

Leave a comment