Hasil FGD I ‘KEBIJAKAN BBM: MANAKAH YANG LEBIH EFEKTIF?”

Kebijakan BBM : Manakah yang Lebih Efektif ?

BBM merupakan barang kebutuhan pokok yang memiliki peran sangat vital bagi perkembangan ekonomi suatu negara. Denyut nadi ekonomi Indonesia memiliki ketergantungan tinggi terhadap bahan bakar minyak ini. Bahkan isu-isu sensitive yang terjadi belakangan ini mengenai rencana pemerintah untuk menaikkan harga BBM ditanggapi secara negatif oleh pasar. Barang-barang kebutuhan pokok mengalami kenaikan karena adanya rencana pemerintah ini. Meskipun banyak yang beranggapan bahwa kebijakan ini sudah tepat namun masih banyak juga yang kurang sependapat dengan rencana pemerintah ini. Dalam focus grup discussion yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan Ilmu Ekonomi Universitas Padjadjaran ini turut dibahas juga mengenai kebijakan manakah yang lebih efektif terhadap masyarakat dan ekonomi Indonesia.

Kenaikan BBM sangat diperlukan bagi perekonomian Indonesia karena dapat menaikkan GDP indoensia dalam jangka panjang , sedangkan akibat kenaikan harga BBM tersebut membuat subsidi pemerintah mengalami penurunan dan anggaran subsidi tersebut bisa dialihkan ke sektor lain yang masih kekurangan anggaran. Dana yang sebelumnya dialokasikan untuk subsidi BBM seharusnya digunakan pemerintah untuk memberikan bantuan langsung kepada masyarakat misalnya BLT terlebih dahulu sebelum mengalokasikannya untuk sarana transportasi.

Kenaikan BBM juga mengalami sisi negatif dalam praktiknya, meskipun GDP mengalami kenaikan dalam jangka panjang namun buruh juga akan meminta kenaikan upah dalam jangka panjang akibat kenaikan harga bahan pokok yang ada di Indonesia. Hal ini bukan solusi utama karena menyebabkan orang kaya semakin kaya dan orang miskin semakin miskin dengan melihat keharusan dari pemerintah untuk mempertahankan sumber dayanya. Dengan mengumumkan kenaikan harga BBM saat ini juga tidak tepat karena kita akan menghadapi lebaran yaitu situasi dimana dipandang dalam sudut pandang ekonomi akan mengalami inflasi, kemungkinan terjadi inflasi yang tidak terkendali akan sangat tinggi.

Seperti yang kita ketahui pemerintah menghadapi berbagai masalah yang cukup pelik. Pengumuman keputusan naiknya harga BBM urung dilaksanakan oleh pemerintah, awalnya pemerintah ingin menaikkan pada bulan maret, lalu april namun hingga saat ini pemerintah masih menggantungkan kebijakan tersebut yang berpengaruh juga pada harga-harga pasar. Pemerintah seharusnya bersikap tegas dalam mengeluarkan kebijakan dan jangan hanya mengeluarkan isu dan menimbulkan opini masyarakat. Bantuan yang diberikan pemerintah lebih baik dalam bentuk BMT bukan BLT, yaitu dengan cara masyarakat mengajukan proposal kepada pemerintah. Dalam jangka pendek, pemerintah lebih baik menaikan harga BBM dan mencari energi alternatif. Namun dalam jangka panjang perbaikan infrastruktur transportasi umum dan pengembangan energy alternatif mutlak diperlukan.(*)

Research and Development Division HIMA ESP FE Unpad

Memimpin ASEAN melalui Creativity Assets

Oleh

 Harumi Nimas

IESP 2012

 

Akhir 2015, Indonesia akan mulai memasuki era baru perekonomian regional dengan diberlakukannya ASEAN Economic Community (AEC) atau Masyarakat Ekonomi ASEAN.  Masyarakat Ekonomi ASEAN dibangun dengan pilar utama untuk membentuk ASEAN sebagai sebuah pasar tunggal dan kesatuan basis produksi. Pilar lainnya ialah untuk membentuk kawasan berdaya saing tinggi dengan pembangunan ekonomi merata, serta mengintegrasikan perekonomian regional terhadap perekonomian global. Dengan begitu, AEC diharapkan dapat mengurangi kemiskinan dan memperkecil disparitas ekonomi diantara negara-negara anggotanya melalui sejumlah kerjasama yang saling menguntungkan.

Menyongsong pemberlakuanya yang akan dipercepat 5 tahun dari rencana awal, Indonesia harus benar-benar cermat dalam menyusun strategi agar kesempatan yang datang dapat berpotongan dengan kesiapan tepat pada waktunya sehingga Indonesia dapat memimpin permainan dan tidak terjebak peran sebagai pasar belaka.

Lalu dimanakah posisi Indonesia sendiri? Selain masih menyimpan potensi di bidang pertanian, perkebunan, peternakan, hasil hutan dan sumber daya laut, Indonesia dewasa ini cenderung unggul dalam industri berbasis creativity assets. Melihat peta tersebut, Indonesia dalam menyiasati persaingan regional bisa berperan untuk mengembangkan produk-produk kreatif, masuk ke wilayah-wilayah yang tidak dimiliki kompetitor dengan keunggulan estetika, ragam budaya, bahan baku dan jumlah tenaga kerja sekaligus. Batik dan tenun yang sudah mendunia serta Dagadu (Yogya) dan Jogger (Bali) merupakan sedikit dari banyak produk yang memiliki landasan besar dari kekuatan kreatif yang bisa dikembangkan. Produk unik (unique selling point) lainnya yang bisa dikembangkan antara lain makanan kering/makanan kemasan, Islamic product related (dari piranti ritual, fashion, alat rumah tangga, alat produksi termasuk elemen interior dan arsitektur) dan produk-produk dengan cakupan pasar lebih luas, termasuk komik, ilustrasi, musik, serta seni pertunjukkan. Di bidang inilah Indonesia harus lebih fokus mengembangkan diri jika ingin unggul dari kompetitornya. Jangan terjebak pada mainstream industri yang sebenarnya bukan merupakan kekuatan terbesar kita. Sektor seperti minyak, gas dan mineral tetap dapat dimasukkan menjadi salah satu bagian industri strategis, termasuk pengolahan logam dengan titik lebur tinggi, persenjataan, kapal, pesawat, sarana transportasi rakyat dan teknologi tepat guna penunjang produksi masyarakat, namun, bukan sebagai basis kekuatan ekonomi utama Indonesia dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN.

Menyadari keunggulan di bidang kreatif merupakan salah satu competitive advantage yang besar, Indonesia harus serius mempersiapkan strategi kebudayaan, industri dan perdagangan (pemasaran) lebih lanjut. Rencana pembangunan ekonomi Indonesia yang sudah mulai beriorientasi ke arah pemberdayaan intellectual capital, termasuk di dalamnya intensifikasi pengembangan ekonomi kreatif yang bersemangatkan kesadaran local to global mendorong Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif merumuskan beberapa strategi pengembangan ekonomi kreatif, sebagai berikut:

  1. Pengembangan sumber daya dan teknologi, yaitu dengan mengembangkan sumber daya insani, menciptakan inovasi, penelitian dan teknologi aplikatif dan pengembangan jejaring dan kolaborasi pelaku kreatif.
  2. Pengembangan industri kreatif, yaitu dengan menigkatkan kualitas konten, desain, kemasan karya, produk, jasa kreatif berbasis seni dan budaya. Memanfaatkan teknologi informasi, teknologi produksi, dan teknologi pertunjukan dalam penciptaan karya, produk, dan jasa kreatif. Pengembangan sarana dan prasarana. Koordinasi penembangan industri hulu dan hilir serta peningkatan skalabilitas produksi.
  3. Peningkatan akses pembiayaan, yaitu dengan pengembangan model pembiayaan serta meningkatkan akses pembiayaan melalui business match making.
  4. Peningkatan akses pasar, yaitu dengan memfasilitasi pameran, bursa, misi penjualan, pertunjukan, penayangan, festival untuk mempertunjukan karya kreatif kepada masyarakat di dalam dan luar negeri.
  5. Penguatan institusi, yaitu dengan merumuskan kebijakan yang mendukung terciptanya iklim usaha yang kondusif. Penguatan tata niaga karya, produk dan jasa kreatif. Peningkatan apresiasi terhadap pelaku dan karya, produk, dan jasa kreatif. Perlindungan hak atas kekayaan intelektual serta penguatan kelembagaan

Melihat poin-poin di atas, ada harapan besar bahwa pemerintah Indonesia memiliki komitmen untuk memajukan ekonomi kreatif sebagai senjata dalam pertarungan ekonomi global. Sejalan dengan itu, aktor utama industri kreatif lainnya yakni para pebisnis dan kalangan intelektual juga harus setia pada komitmen yang sama.  Adanya sinergisasi triple helix (pemerintah, pengusaha, kaum intelektual termasuk akademisi) ini merupakan prasyarat mutlak keberhasilan pengembangan industri kreatif mengingat ide cemerlang, sistem yang terstruktur baik, dan konsep yang aplikatif saja tidak akan menghasilkan apapun jika tidak ada sumber daya yang dapat mewujudkannya. Intinya memang terletak pada kematangan serta kecermatan para pemangku kepentingan memanfaatkankan sumber daya ekonomi baru, yakni manusia, kreativitas (daya akal), dan peluang  global. Indonsia harus berani menjadi pelopor, berpikir apa yang belum dipikirkan negara lain, dan mewujudkannya melalui apa yang kita miliki dan tidak dimiliki bangsa lain.

Optimalisasi competitive advantage di bidang pengembangan produk-produk kreatif ini memang hanya satu irisan dari strategi besar Indonesia menuju Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015. Namun jika kita serius, ini bisa menjadi strategi kunci untuk menjadikan Indonesia pemain berdaya saing tinggi bukan hanya di kancah regional namun juga di kancah global. Satu hal yang penting diingat, terlepas dari bagaimana menjadi yang terunggul dalam persaingan regional dan memimpin perekonomian di ASEAN, salah satu tujuan utama dibentuknya Masyarakat Ekonomi ASEAN adalah untuk menyejahterakan negara-negara anggotanya melalui dukungan satu sama lain. Maka, barulah Indonesia layak disebut sebagai pemimpin ASEAN yang sebenar-benarnya, apabila Indonesia sudah mampu mengambil peran sebagai aktor utama dalam mewujudkan cita-cita kolektif tersebut.

 

 

 

KISAH INSPIRATIF

Meja Telepon Ibu
Siti Horiah
        Mahasiswa Program Studi Teknik Nuklir 2012

Disudut ruang tamu kami, yang luasnya tidak lebih dari 4m2 itu terletak sebuah meja kecil berwarna hitam. Meja itu adalah sebuah meja telepon rumah yang sudah beralih fungsi sebagai meja belajarku. Meja itu adalah satu-satunya meja yang ada di rumah kami, meja yang sampai saat ini masih dibiarkan ibuku tetap berdiri tegak dan masih tetap berada dirumah kami dengan sebuah alasan yang tak aku ketahui.

Beginilah kondisi rumah kami setelah peristiwa kebangkrutan usaha ayahku. Demi menyambung nyawa keluarga kami, ibu rela menjual barang-barang berharga yanga ada di rumah kami pada tetangga sekitar. Ibuku tidak tahu lagi harus berbuat apa, dan tidak tahu lagi bagaimana caranya mendapatkan uang untuk membeli beras. Beliau menjual satu persatu barang-barang berharga kami, setiap kali datang waktu makan. Mulai dari beberapa pakaian ibuku yang paling beliau suka, alat-alat dapur seperti gelas, piring, panci, dispenser, bahkan sendok dan garpu pun ikut habis terjual.

Ayahku tidak dapat berbuat banyak setelah peristiwa kebangkrutan usahanya. Beliau hanya mampu menjadi kuli dipasar tradisional di kota kami. Upah yang dia terima tidak mampu menutupi kebutuhan keluarga besar kami.

***
Suatu siang, aku melihat adikku Rafi menangis sambil menghampiri ibu yang sedang duduk lemas menonton tv tanpa antena itu. Aku memperhatikan gerak-gerik ibu yang kepanikan, beliau tidak ingin membiarkan Rafi adikku menangis terlalu lama.

“ibu, ibu aku lapar!” jerit Rafi.

Ibu yang tak bisa berkata apa-apa langsung pergi menuju dapur, mengambil beberapa piring. Aku pun terus memperhatikan gerak-gerik ibu. Aku heran apa yang akan ibu lakukan dengan kelima buah piring itu. Sempat aku berpikir kalau ibu akan mengambilkan nasi untuk Rafi, namun aku teringat kalau dari kemarin aku belum memasak nasi untuk keluarga kami. Dengan masih tetap memperhatikannya dari balik pintu, aku melihat air mata ibuku jatuh berlinang membasahi pipinya yang pucat, namun dengan cepat beliau langsung menghapusnya takut-takut kalau air matanya akan terlihat olehku. Aku pura-pura tidak sadar dengan apa yang ibu lakukan didapur, aku menyibukan diriku dengan menggendong dan menimang Rafi agar dia tidak menangis.

Kubiarkan ibu dengan kesibukannya, kulihat beliau keluar rumah dengan kelima piringnya itu. Tak beberapa lama kemudian beliau kembali dengan uang ribuan yang lusuh sebanyak lima lembar. Aku terheran-heran atas apa yang ibu lakukan. Ibu langsung menyuruhku pergi kewarung membeli setengah liter beras, dan satu butir telur. Tanpa berpikir panjang aku pun langsung pergi menuruti perintah ibu.

Aku kembali dengan apa yang ibu minta dan ibu langsung menyuruhku memasaknya. Ibu menyuruhku membuat telur dadar dengan mencampurkan telur itu dengan terigu, agar satu telur itu menjadi besar dan cukup untuk dimakan oleh kami bersembilan. Aku menarik napas dalam-dalam, air mataku pun tak kuat dibendung, menetes jatuh. Aku tak kuat menahan ini semua, bagaimana tidak, setiap harinya kami hanya makan satu kali sehari. Berbagi setengah liter nasi untuk sembilan orang, satu butir telur saja harus dibagi sembilan, sering kamipun membagi 2 bungkus mie instans untuk sembilan orang. Terkadang ayah memilih pergi dari rumah saat tiba waktu makan, beliau pergi sambil menitip pesan padaku agar jatah makanannya diberikan pada adik-adikku saja.

Ibu sangat sayang pada kami, beliau tidak pernah membagi penderitaanya pada kami semua. Selagi ayah menjadi kuli dipasar, ibu selalu menggantikan peran ayah. Ibu tak pernah terlihat sedih dengan penderitaanya. Ibu rela berkorban demi kami semua. Ibu rela menjual tempat tidurnya dan memilih tidur dilantai dengan beralaskan kasur yang tipis saja.

Hampir seluruh barang berharga dirumah kami terpaksa beliau jual, demi menutupi pendapatan ayah yang besarnya tak kurang dari sepuluh ribu rupiah. Hanya satu buah meja telepon yang ibu sisakan diruang tamu kami. Aku heran kenapa ibu tidak pernah mau menjual meja tersebut, beliau lebih memilih menjual beberapa pakaiannya ketimbang menjual meja tersebut. Sampai pada saatnya aku tak sanggup melihat pakaian terbaik ibu harus ikut terjual, akupun menawarkan meja telepon itu untuk dijual pada ibu. Namun ibu menolak dengan kata-kata yang membuatku menangis sendiri.

“Selapar apapun kita nanti, ibu tidak akan menjual tempat yang kau gunakan untuk mengantungkan cita-citamu itu nak, pakailah terus meja itu.” Ungkapnya sambil pergi kerumah tetangga untuk menjual baju terbaiknya selama ini, demi sepiring nasi untuk keenam adikku.

Aku lemas mendengarnya, jadi selama ini ibu tidak mau menjualnya hanya karena aku sering memakai meja yang panjangnya tidak lebih dari 30 cm itu untuk belajar. Aku tersadar selama ini aku memang selalu menggunakan meja itu untuk belajar karena itu adalah satu-satunya meja yang ada dirumah kami.

Itulah kondisi yang selama ini aku alami, tak ada yang bisa aku lakukan banyak ketika itu. Saat itu kondisinya aku sedang duduk dikelas tiga. Ditengah kondisi seperti ini aku harus tetap berjuang untuk bisa lulus SMA. Setiap malam aku bangun untuk belajar dan mengerjakan tugas, aku menggunakan meja telepon itu sebagai alasku belajar. Terbayang betapa menderitanya belajar di atas meja yang luasnya lebih kecil dari luas buku tulisku. Namun tidak ada pilihan lain bagiku, aku tak mampu menunduk lama untuk belajar bila memilih belajar diatas lantai yang dingin. Meja itu adalah teman terbaik bagiku. Dia selalu menemaniku dimalam hari disaat semua orang terlelap, aku harus bangun untuk belajar. Semua itu aku lakukan karena aku tidak memiliki waktu disiang hari untuk belajar.

Benar kata ibuku meja itu adalah tempat aku menggantungkan semua cita-citaku. Tempat aku memulai perubahan pada hidup keluargaku. Ibuku berharap besar padaku, karena aku adalah anak pertama. Jadi setelah aku lulus SMA nanti aku bisa langsung bekerja, dan ibu optimis terhadap diriku kalau aku nanti akan mendapatkan pekerjaan yang layak. Karena ibu tahu aku termasuk murid yang berprestasi disekolah.

Tanpa disadari aku memang menyayangi meja kecil hitam itu, meja itu selalu aku bersihkan setiap harinya, walaupun meja itu kecil dan sempit tapi aku masih bersyukur bisa tetap menulis diatas meja. Meja itu adalah satu-satunya tempat aku berbagi rahasia, tempat aku mengukir sebuah mimpi. Hanya meja itu yang menjadi saksi kalau aku memiliki sebuah mimpi yang selama ini aku rahasiakan dari dunia.

Aku punya sebuah mimpi yang benar-benar tidak bisa aku ungkapkan pada siapapun. Aku takut kalau mimpiku yang satu ini kuberitahu pada orang tuaku itu akan menjadi beban padanya, kalau aku beritahu pada teman-teman atau orang banyak aku takut mimpiku yang ini akan ditertawakan mereka. Jadi selama ini hanya meja kecil ini yang bersaksi kalau aku sering mengukir sebuah nama Universitas yang aku impikan pada catatan sekolahku. Ya, mimpiku yang tidak dapat aku beritahukan kepada siapa pun termasuk orang tuaku sendiri adalah duduk di bangku KULIAH.

Sebenarnya setiap kali orang tuaku membahas tentang pekerjaan yang nantinya aku lakoni setelah lulus SMA, hati kecilku menangis merintih tak terdengar siapapun.

“ayah, mama, aku gak mau kerja aku mau kuliah kaya temen-temen, aku mau masuk UGM aku mau ke Jogja, aku gak bisa KERJA!” jerit hati kecil ini.

***

Saat-saat seperti ini semua teman-temanku sibuk mencari tempat bimbel yang terbaik dikota kami, sebagai salah satu persiapan sebelum menghadapi SNMPTN. Bagi seorang Siti Horiah jangankan mengikuti program bimbel, buku paduan SNMPTN saja tak punya. Aku tak pernah memiliki niat untuk membeli buku SNMPTN yang harganya selangit itu. Untuk makan adik-adiku saja setiap subhu aku dan ibu masih harus keliling pasar untuk menjajakan kue cucur buatan ibuku. Bagaimana aku mau menabung, uang jajan yang ibu berikan itu hanya sebesar tiga ribu rupiah saja, itupun hanya cukup untuk ongkos naik angkutan umum. Kalau kue kami tidak terjual satupun itu berarti aku harus berjalan kaki sejauh 3 km untuk sekolah. Aku tak sanggup meminta uang sepeserpun unutuk membeli buku SNMPTN pada ayahku yang menjadi kuli dipasar, apalagi berkata pada ayah kalau aku ingin kuliah ke JOGJA. Sudahlah bagiku kuliah adalah mimpi-mimpi basi seorang siswa SMA kelas 3 seperti aku ini.

Itulah sebabnya aku menyembunyikan mimpi besar hidupku ini dari orang banyak. Bagiku mimpi ini hanya akan menjadi pisau kecil bagi keluarga kami. Mimpi yang akan menusuk dan mengiris perasaan kedua orang tuaku. Tak pernah sekalipun aku berniat untuk mengkhayal menduduki bangku kuliah. Aku takut kalau kedua orang tuaku tahu tentang mimpi ini, mereka pasti akan merasa kalau mereka bukan orang tua yang baik, orang tua yang tidak bisa membahagiakan anak-anaknya. Biarlah mimpiku yang ini hanya aku, meja kecil itu dan Tuhan yang tahu.

***

Sahabatku Ana selalu ada untukku, memberika support. Cita-citanya menjadi dokter membuat aku tersenyum miris sendiri. Aku selalu berpikir kenapa aku tidak seberani dirinya bermimpi dan bercita-cita. Namun aku sadar aku tidak seperti dirinya, aku bukan anak siapa-siapa yang boleh bermimpi setinggi itu. Kalau kata adikku yang pertama “MIMPI ITU MAHAL KAK!” buat bermimpi saja itu sulit apa lagi merealisasikannya pada kenyataan. Sesulit itukah bermimpi pikirku kalau mimpi saja dianalogikan dan disamakan dengan kata mahal. Kata-kata yang membuat keluarga miskin seperti kami gempar mendengarnya. Kata mahal itu bagi kami berarti mustahil dijangkau. Maklumlah, bagi keluarga miskin seperti kami harga sebutir telur naik seratus rupiah pun sudah membuat kepala ayahku sakit.

Saat aku berkunjung kerumah Ana, orang tuanya memberikanku uang sebesar seratus ribu rupiah. Tanganku gemetar menerimanya. Orang tua Ana memberikan uang itu untuk aku gunakan sebagai ongkos pulang kerumah, yang pada kenyataannya ongkos yang aku gunakan hanya empat ribu rupiah. Setelah kuputuskan sisa uang tersebut kuberanikan saja untuk kubelikan sebuah buku SNMPTN bekas dipasar. Agar harganya tidak mahal dan aku dapat memberikan sisa uangnya pada ibuku. Aku sangat senang sekali saat itu, aku berpikir walaupun aku tak ada niat untuk kuliah namun apa salahnya kalau aku juga ikut menimba ilmu seperti teman-temanku.

***

“Kamu mau kuliah?” sahut ayahku didepan ibu dan adik-adiku.

Aku kaget bukan main terhadap pertanyaan itu, dari mana ayah tahu mimpi yang aku sembunyikan dari dunia itu, mimpi yang tidak pernah terucap oleh lidahku sendiri walau dalam doa di sholatku, mimpi yang hanya ikut mengalir bersama air mata sebelum tidurku, mimpi yang bahkan akupun sendiri malu bercerita pada Tuhan. Ternyata ayah menyadari hal itu semua karena buku SNMPTN yang baru aku beli kemarin ku letakan diatas meja kecil hitam itu. Ibuku yang hanya lulusan SD menggeleng-gelengkan kepala mendengar ucapan ayah. Ibu marah mendengar hal itu, ibu menyuruhku mengubur mimpi tersebut, ibu takut kalau nantinya aku stress karena mimpiku yang ini tidak akan pernah terwujud. Aku tertunduk menangis, adik-adiku iba melihat kearahku. Ayah menenangkanku tersenyum padaku, ayah berkata padaku agar aku belajar yang baik dan mencari tempat kuliah yang aku inginkan. Ayah berkata kalau beliau akan berusaha mati-matian agar aku bisa kuliah. Aku tersenyum melihat ayah yang bijak berkata seperti itu, entahlah aku sempat berpikir kalau ayah hanya ingin menenangkan diriku saja.

***

Suatu sore saat aku sedang menyapu halaman rumah, seorang ibu yang sebaya dengan ibuku menegurku.

“kamu mau kuliah yah neng?”. Tegurnya sambil tertawa kecil.

Aku kaget dibuatnya, Ibu itu berkata kalau kemarin ibuku bercerita pada dirinya bahwa aku merengek meminta meneruskan sekolah. Ibu itu menasihati diriku, dia berkata padaku kalau kita sebagai orang susah jangan ‘kebanyakan tingkah’, aku sebagi anak pertama jangan menyusahkan kedua orangtua dengan merengek-rengek minta kuliah. Kuliah itu mahal katanya, upah ayahmu itu tidak cukup untuk makan dua kali sehari, apalagi untuk biaya kuliah. Kasihan adikmu ada banyak mau makan apa mereka.

Hatiku bergetar, ingin rasanya aku membentaknya. Namun aku hanya mampu membalas perkataannya dengan senyum termanis yang aku miliki.

Keesokan harinya ibuku bercerita, kalau teman-teman ayahku dipasar itu mengolok-olok ayahku karena ayahku bercerita pada mereka kalau aku ingin kuliah. Mereka berkata pada ayahku kalau tidak akan ada universitas yang mau menerima orang miskin seperti aku ini.

Aku berlari menuju meja kecil hitam di ruang tamuku, ku buka buku catatanku yang pernah kutulisi tulisan grafiti nama sebuah universitas impianku. Kurobek dan kulempar bukunya, aku marah saat itu. Karena orang yang paling aku sayang itu dihina oleh orang lain, dicaci maki. Aku tersadar kalau itu semua karena mimpi ‘konyolku’ berkuliah. Itulah sebabnya selama ini aku malu dan memutuskan untuk menguburkan niat dan impianku berkuliah sedalam-dalamnya. Sudah kukira akan berakhir dengan penghinaan kedua orangtuaku seperti ini. Aku kesal, orang tuaku dihina seperti itu. Aku malu karena itu semua adalah ulah dari mimpi tidur indahku.

***

Keesokan harinya disekolah teman-temanku bersorak dan memanggilku.

“Selamat yah sit, lu masuk daftar undangan SNMPTN tuh!” ucap Lidia

Jantungku bergetar, aku tak percaya kalau namaku bisa masuk dalam jajaran murid-murid pintar yang bisa mengikuti SNMPTN undangan. Aku pun girang bukan main, ku hampiri guru bimbingan konselingku. Aku menceritakan masalah keluargaku selama ini, awalnya aku tak mau bercerita namun karena mimpiku berkuliah saat ini sudah ada di depan pelupuk mata. Maka akupun memutuskan untuk menceritakan semuanya agar aku mendapatkan jalan keluar yang terbaik.

Guruku itu langsung memeluk tubuhku yang kaku, dia memiliki impian besar terhadap diriku. Dia mencarikan solusi untuk masalahku ini dengan menawarkan beasiswa BIDIKMISI. Tanpa berpikir panjang aku menyetuji ajakannya. Aku pulang kerumah dan menyiapkan berkas-berkas yang ada, saat itu aku merasa bersyukur sekali karena impianku yang kurasa buruk itu akan segera terwujud. Aku sengaja tidak memberitahu informasi ini pada kedua orangtuaku, aku ingin membuat semua ini menjadi kejutan bagi mereka.

Segala macam persyaratan pendaftaran SNMPTN itu pun telah dipenuhi, aku memutuskan untuk memilih UNIVERSITAS GADJAH MADA dan prodi TEKNIK NUKLIR pada pilihan pertama. Entahlah dengan hanya bermodal menyukai kimia dan fisika. Maka aku putuskan untuk memilih program studi ini. Besar harapanku untuk diterima. Setelah semuanya selesai , baru ku beritahu ayah dan mama. Mereka sangat senang karena beasiswa Bidik Misi ini mereka berdua tidak perlu mengeluarkan uang sampai aku lulus nanti. Kedua orang tuaku pun senang dengan pilihan program studi yang aku pilih itu. Semuanya tinggal ku pasrahkan pada Tuhan. Kalau memang rezeki aku pasti akan mendaptkannya pesan ayah padaku yang selalu ku ingat.Aku senang dan aku ingin membuktikan pada semua orang yang telah menghina mimpiku.Aku ingin membuktikan kalau impianku ini akan segera terwujud.

***

Dua bulan lamanya aku menunggu pengumuman, selama itu aku mempersiapkan diriku untuk bisa mengikuti SNMPTN tulis, aku belajar sedikit demi sedikit dari buku soal-soal SNMPTN yang aku miliki. Semangatku berkuliah setiap harinya semakin kencang. Ditengah-tengah semangatku ini, masih saja ada tetangga yang mengolok-olok mimpiku. Ada tetangga yang berkata pada ibuku seperti ini.

“Hati-hati bu, itu anaknya bukan mau kuliah tapi mau jual diri.” Ucapnya sinis
Ingin rasanya aku menampar orang yang berbicara seperti itu pada ibuku, tapi ibuku menyadarkanku kalau ucapan mereka adalah batu loncatan bagi prestasiku. Aku harus tetap rajin belajar dan membuktikan pada dunia kalau mimpiku itu akan mengubah dunia menjadi lebih baik.

***

Semua hinaan, cacian maki tetangga-tetangga sampai saudara-saudara terdekat kami kemarin terhadap mimpi besarku, kini lenyap sudah. Air mata kedua orang tuaku kini warnanya berubah sebening permata, keringatnya yang bercucuran itu menjadi keringat kebanggaan mereka terhadapku, simpulan senyum guru-guruku mengguratkan harapan besar padaku. Ya, aku diterima di Universitas kerakyatan yang menjadi kebanggaan negara ini. Universitas bergengsi dan nomor satu terbaik di Negri ini. Gadjah Mada namanya, di sana namaku tertera di Teknik Nuklir. Program studi sarjana Nuklir satu-satunya di ASEAN dan memiliki lulusan terbaik se-Asia.

Aku tak bisa berkata apa-apa, melihat kebahagiaan kedua orang tuaku. Melihat mimpiku yang kini menjadi nyata, mimpi yang tak pernah berani aku ungkapkan pada dunia. Mimpi yang tak seharusnya aku tutupi dari orang lain. Sekarang aku sadar kalau semua itu memang berasal dari mimpi. Mimpi yang bukan hanya sekedar mimpi, mimpi yang harus segera diwujudkan, bukan dibiarkan tetap tidur bersama angan-angan semata. Aku pun tersadar sekarang kalau tak ada satupun hal yang mustahil dalam hidup ini, aku masih memiliki Allah. Tuhanku yang tak pernah tidur, yang selalu mau mendengarkan mimpi kecil kita. Aku tak akan menyia-nyiakan amanat besarmu ini Tuhan. Aku tersenyum mengingat semua pengorbanan aku dan kedua orangtuaku demi mimpi manis ini kemarin. Terimakasih meja kecilku yang setia menemaniku merogoh mimpi ini. Terimakasih Tuhan mengijinkanku merajut asa ini untuk meraih impian.

Beasiswa Data Print

 

Program beasiswa DataPrint telah memasuki tahun ketiga. Setelah sukses mengadakan program beasiswa di tahun 2011 dan 2012, maka DataPrint kembali membuat program beasiswa bagi penggunanya yang berstatus pelajar dan mahasiswa.  Hingga saat ini lebih dari 1000 beasiswa telah diberikan bagi penggunanya.

Di tahun 2013 sebanyak 500 beasiswa akan diberikan bagi pendaftar yang terseleksi. Program beasiswa dibagi dalam dua periode. Tidak ada sistem kuota berdasarkan daerah dan atau sekolah/perguruan tinggi. Hal ini bertujuan agar beasiswa dapat diterima secara merata bagi seluruh pengguna DataPrint.  Beasiswa terbagi dalam tiga nominal yaitu Rp 250 ribu, Rp 500 ribu dan Rp 1 juta. Dana beasiswa akan diberikan satu kali bagi peserta yang lolos penilaian. Aspek penilaian berdasarkan dari essay, prestasi dan keaktifan peserta.

Beasiswa yang dibagikan diharapkan dapat meringankan biaya pendidikan sekaligus mendorong penerima beasiswa untuk lebih berprestasi. 

Pendaftaran periode 1 : 1 Februari – 30 Juni 2013

Pengumuman                : 10 Juli 2013

 

Pendaftaran periode 2   : 1 Juli – 31 Desember 2013

Pengumuman                : 13 Januari 2014

 

PERIODE

JUMLAH PENERIMA BEASISWA

@ Rp 1.000.000 @ Rp 500.000 @ Rp 250.000
Periode 1

50 orang

50 orang

150 orang

Periode 2

50 orang

50 orang

150 orang

Ini web untuk daftar Beasiswa Data Print http://beasiswadataprint.com/

Good Luck

 

 

BANK SOAL UTS SEMESTER GENAP 2012/2013

Link Bank Soal :

Bahasa Inggris
Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya
Ekonomi Industri
Ekonomi Manajerial
Kewarganegaraan
Makroekonomi 2
Manajemen Keuangan
Metodologi Penelitian
Mikroekonomi 1
Pengantar Akuntansi 2
Pengantar Manajemen
Pengantar Statistika
Perdagangan Internasional
PIE Makro
Topik Khusus Ekonomi Moneter
Ekonometrika 1
Ekonomi Kebijakan Publik
Ekonomi Pembangunan
Hukum Bisnis
Matematika Lanjutan
Operasi Bank Sentral
Perbandingan Sistem Ekonomi

Selamat UTS. Selamat Belajar. Semoga Membantu :)
By Research and Development HIMA ESP FE UNPAD 2012/2013

ARTIKEL : REDENOMINASI RUPIAH 2014

REDENOMINASI RUPIAH 2014

oleh : Dian Putra Pratama

ESP 2011

 

Apasih redenominasi rupiah?

Indonesia merupakan sebuah negara berkembang yang memiliki perekonomian yang cukup stabil ditengah-tengah perekonomian dunia yang sedang bergejolak. Jakarta (ANTARA News) – Bank Indonesia mencatat bahwa pertumbuhan ekonomi dalam negeri tahun ini sebesar 6,3 persen, akan menjadi pertumbuhan tertinggi kedua di dunia setelah China mencapai 7,8 persen.

Ditengah kesetabilan ini, Bank Indonesia memutuskan untuk melakukan redenominasi rupiah. Dengan alasan untuk efisiensi penulisan, estetika, dan sebagainya, BI akan melakukan redenominasi mulai 2014 hingga 2018, empat tahun tersebut merupakan masa transisi. Sehingga direncanakan pada 2019, Indonesia telah menggunakan mata uang baru dengan jumlah angka ‘0’ yang lebih sedikit tanpa mengurangi nilainya. Lalu apa itu redenominasi rupiah?

Menurut Wikipedia,

Redenominasi adalah penyederhanaan nilai mata uang menjadi lebih kecil tanpa mengubah nilai tukarnya. Pada waktu terjadi inflasi, jumlah satuan moneter yang sama perlahan-lahan memiliki daya beli yang semakin melemah. Dengan kata lain, harga produk dan jasa harus dituliskan dengan jumlah yang lebih besar.

Ketika angka-angka ini semakin membesar, mereka dapat memengaruhi transaksi harian karena risiko dan ketidaknyamanan yang diakibatkan oleh jumlah lembaran uang yang harus dibawa, atau karena psikologi manusia yang tidak efektif menangani perhitungan angka dalam jumlah besar. Pihak yang berwenang dapat memperkecil masalah ini dengan redenominasi: satuan yang baru menggantikan satuan yang lama dengan sejumlah angka tertentu dari satuan yang lama dikonversi menjadi 1 satuan yang baru. Jadi, prosedur ini dapat disebut sebagai “penghilangan nol”.

Redenominasi tidak mempengaruhi GDP karena redenominasi tidak mempengaruhi permintaan dan penawaran agregat. Sebab redenominasi tidak merubah harga-harga relative dalam perekonomian.

Kita mengenal permintaan dan penawaran agregat dalam perekonomian, lalu apakah redenominasi memiliki pengaruh terhadap keduanya?

Permintaan agregat terdiri dari penjumlahan konsums(consumer spending), investasi, pengeluaran pemerintah dan net expor. Pengeluaran pemerintah dipengaruhi oleh perilaku politik, investasi dipengaruhi oleh tingkat suku bunga, yang sangat kecil kemungkinannya dipengaruhi oleh hal lain. Konsumsi konsumen tidak akan berubah, karena mereka tidak akan merasa lebih kaya setelah redenominasi ini. Lalu net ekspor juga tidak akan berubah selama kekuatan nilai tukarnya tidak berubah. Dengan harga relative di dalam dengan di luar negeri tidak berubah, sehingga import maupun ekspor tidak berubah.

Dalam penawaran agregat, capital dan labor menjadi objeknya. Ketika redenominasi terjadi, upah untuk membayar buruh tidak menjadi lebih murah karena harga jual produk juga berubah sesuai dengan rasio awalnya. Sehingga capital maupun labor intensive tidak akan meningkatkan pendapatan.

Dalam rupiah, Rp 100 yang merupakan satuan terkecil akan menjadi 1 sen, Rp 1000 mejadi Rp 1 , Rp 10.000 menjadi Rp 10, dan seterusnya dengan menghilangkan tiga angka 0 dibelakangnya.

Salah satu negara yang sukses melakukan redenominasi mata uangnya adalah Turki. Turki tercatat pernah sukses melakukan redenominasi dengan menghilangkan 6 angka nol pada mata uangnya. Jadi redenominasi yang dilakukan Turki adalah mengubah 1.000.000 lira menjadi 1 lira pada tahun 2005.
Namun redenominasi yang dilakukan Turki ini berbeda dengan yang akan dilakukan Indonesia. Seperti dikutip dari situs bank sentral Turki, kebijakan redenominasi ini dilakukan untuk menekan laju inflasi Turki yang sangat tinggi sejak tahun 1970-an. Inflasi yang tinggi ini menyebabkan nilai ekonomi di negara belahan Eropa tersebut mencapai hitungan triliun, bahkan kuadriliun.

(http://finance.detik.com/read/2012/10/31/074213/2076977/5/ini-dia-negara-negara-yang-sukses-terapkan-redenominasi-mata-uang–1-)

Turkey
Year # 2007
1 U.S. dollar = 1,260,000 (old) lira
Highest denomination
20,000,000 lira
removed 6 zero’s from currency

Romania
Year # 2006
1 U.S. dollar = 28,000 (old) lei
Highest denomination
1,000,000 lei
removed 4 zero’s from currency

Iraq
1 U.S. dollar = 1197 NID
Highest denomination
25,000 NID

Beda dong dengan sanering?

Jelas beda dong, begini,

Sanering adalah pemotongan daya beli masyarakat melalui pemotongan nliai uang. Namun harga-harga barang tetap, sehingga daya beli masyarakat turun. Hal ini pernah terjadi di Indonesia yang dikenal dengan peristiwa ‘Gunting Syarifuddin’.

Kebijakan gunting Syarifuddin dibuat untuk mengatasi situasi ekonomi Indonesia yang saat itu sedang terpuruk–utang menumpuk, inflasi tinggi, dan harga melambung. Dengan kebijaksanaan yang kontroversial itu, Sjafruddin bermaksud sekali pukul menembak beberapa sasaran: penggantian mata uang yang bermacam-macam dengan mata uang baru, mengurangi jumlah uang yang beredar untuk menekan inflasi dan dengan demikian menurunkan harga barang, dan mengisi kas pemerintah dengan pinjaman wajib yang besarnya diperkirakan akan mencapai Rp 1,5 miliar.

So lihat tabel ini untuk lebih singkatnya,

Parameter

Redenominasi

Sanering

Aksi

Penyederhanaan denominasi (pecahan) mata uang menjadi pecahan lebih sedikit dengan cara mengurangi digit (angka 0) tanpa mengurangi nilai mata uang tersebut

Pemotongan daya beli masyarakat melalui pemotongan nilai uang

Pengaruh terhadap harga barang

Berpengaruh

Tidak berpengaruh

Daya beli

Tetap

Turun

Nilai uang terhadap barang

Kerugian

Tidak

Ya

Tujuan

Mengefisienkan dan menyamankan transaksi

Mengurangi jumlah uang beredar

Menyetarakan ekonomi dengan negara regional

Kondisi saat pelaksanaan

Makrekonomi stabil, ekonomi bertumbuh, inflasi terkontrol

Makroekonomi labil, hiperinflasi

Momentum pelaksanaan

Bertahap, persiapan matang dan terukur

Mendadak, tanpa persiapan

Source: wikipedia.com

Oke, sekarang jelas beda ya antara redenominasi yang akan dilakukan pada 2014 dengan sanering, perekonomian yang stabil menjadi alasan dari redenominasi ini, entah bila ada alasan politik yang rumit di balik keputusan redenominasi ini.

EURECA

EURECA. A collective and integrated expo held by Prasetiya Mulya Business School undergraduate program, Eureca consists of several events which includes: Prasetiya Mulya’s prestigious annual Marketing Plan Competition, an annual Business Plan Competition, a public exhibition of start-up businesses called Entrepreneur Day, and a market research data exhibition called Marketing Attack Day. For the first time ever, these events who were once held separately, would now be held under the same event known as Eureca. WHERE and WHEN Prasetiya Mulya Business School Kampus BSD Kompleks Edutown Kavling 1 No. 1 Jalan BSD Raya Barat I, Tangerang Selatan, 15339 Saturday, 19th January 2013 09.30 AM – TBC

website : http://eurecapmbs.blogspot.com/

Hasil Research Team Divisi Research and Development HIMA ESP FE UNPAD 2012/2013

Hasil Tim Riset 1
“Indonesia Ingin Meminjamkan Dana Kepada IMF”

Hasil Tim Riset 2
“Goldman Sachs : Meksiko, Indonesia, Korea Selatan, dan Turkey (MIST) Menggeser Brazil, Russia, China, dan Afrika Selatan (BRICS) Dalam Perspektif Indonesia”

Hasil Tim Riset 3
“Demo Buruh : Efisiensi Perusahaan vs Kesejahteraan Buruh”

By Research and Development HIMA ESP FE UNPAD 2012/2013

BANK SOAL dan RANGKUMAN UAS SEMESTER GANJIL 2012/2013

Link Bank Soal :
Ekonomi Sumber Daya Manusia dan Ketenagakerjaan
Matematika Ekonomi
Agama Islam
Pendidikan Pancasila
Pengantar Akuntansi
PAK
Pengantar Bisnis
PIE Mikro
Sejarah Pemikiran Ekonomi
Statistik 2
Evaluasi Proyek
Bahasa Indonesia
Ekonometrika 2
Ekonomi Keuangan
Ekonomi Koperasi
Ekonomi Moneter
Ekonomi Publik
Ekonomi Syariah
Keuangan Internasional
Makro 1
Perekonomian Indonesia
Sosiologi Politik
Studi Kelayakan Bisnis
Mikro 2

Link Bank Rangkuman :
Mikro 2 (Pak Irlan)
Mikro 2 (Pak Bagdja)
Bahasa Indonesia (Ibu Lina)
Ekonomi Sumber Daya Manusia & Ketenagakerjaaan
Sosiologi Politik
Makro 1 (Ibu Fitri)
Statistik 2
PIE Mikro

Selamat UAS. Selamat Belajar. Semoga Membantu :)
By Research and Development HIMA ESP FE UNPAD 2012/2013